Syed Khairudin Aljunied
Syed Khairudin Aljunied

Oleh: Yusuf Maulana (*)

Sebagai orang tak pernah wisuda, modal saya menghubungi Khairudin Aljunied, Ph.D. hanyalah bermodalkan keberanian dan kepercayaan diri. Keberanian dan kepercayaan diri ini berpangkal dari simpulan saya saat menghadiri kuliah umumnya di UMY pada 2016.

Sang Associate Professor di Departement of Malay Studies, National University of Singapore ini sosok ramah dah rendah hati. Ia, yang peneliti muda bereputasi antar-negara, bisa menyelipkan kritik dan pesan bak dai populer yang kita kenal di layar kaca. Soal etos berkarya, kita bisa susuri senarai di jurnal ilmiah internasional juga buku-buku hasil besutannya di lapangan. Penelitiannya seputar kedai kopi dan dakwah kalangan Melayu di Singapura menarik minat saya hingga tak ingat berapa kali saya bagikan kepada para rekan, penulis, dan pencinta kopi.

Berbeda dengan tokoh akademik di tanah air yang kadang hanya baca sepintas lalu memberikan apresiasi buku (endorsement), yang tak ubah sekadar basa-basi atau paling lebih sebentuk penghargaan dan keramahan, kononnya tidak begitu bagi akademik di luar negeri kita. Kononnya karena saya memang bukan alumnus kampus asing; tiga kampus dalam negeri saja tidak ditamatkan.

Akankah doktor Khairudin, nama yang asing di sini tapi tidak di jagat penelitian dunia Islam Asia Tenggara, berkenan menerima dan membaca karya bersahaja saya?

Via surat elektronik akhirnya beliau meminta saya mengirimkan draf Mufakat Firasat, pada 2017 kejadiannya. Sekian pekan kemudian muncul balasan. Bagi saya, ucapan tertulis yang kelak dicantumkan di sampul Mufakat Firasat itu merupakan satu lecutan agar saya terus berkarya.

Setahun berikut, saya ajukan juga naskah Buya Hamka. Kali ini amat optimis beliau berkenan memberikan endorsement keduanya. Sebabnya yang lain, beliau beberapa bulan sebelumnya itu meluncurkan “Hamka and Islam” yang diterbitkan oleh Cornell University Press. Dan hasilnya ada di sampul belakang buku saya yang terbit akhir 2018 lalu.

Mengenal sosok nan tawadhu, berilmu, apalagi dari kalangan syed, sungguh satu nikmat dari Allah. Mendapati diri yang hanya jebolan kampus silabus otodidak, berinteraksi dengan sosok semacam ini satu oase agar diri ini tak boleh menggemakan kata puas dalam belajar. Persis serupa Buya Hamka yang terus berbenah dan memperbaiki diri.

(*) Penulis Buku Pergerakan Islam

0
0%
like
0
0%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here