SLBN Tanjung, Dulu Dielu-elukan Sekarang Dilupakan
Foto: Kondisi SLBN si Lombok Utara. (KanalNTB.com)

Lombok Utara, KanalNTB.com – Keberadaan Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Tanjung yang dulu dielu-elukan pemerintah daerah kabupaten Lombok Utara (KLU) kini agaknya tak lagi diperhatikan. Pasalnya, pasca dipindah kewenangannya oleh Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Dikbudpora) Provinsi NTB, Pemda KLU tak lagi memberi perhatian, bahkan hanya untuk sekedar mengundang anak-anak berkebutuhan khusus ini untuk mengikuti kegiatan-kegiatan peringatan hari jadi pun tidak pernah dilakukan pemda setempat. Sehingga terkesan anak-anak ini bukan menjadi bagian masyarakat di Lombok Utara

“Tidak ada perhatian pemda lagi setelah Sekolah bagi anak-anak yang berkebutuhan khusus ini diambil alih oleh Provinsi,”kata Kepala Sekolah SLBN Tanjung, Murianto..

Murianto menjelaskan, jumlah anak berkebutuhan khusus yang bersekolah di SLBN saat ini sebanyak 35 anak dengan jenis kebutuhan khusus yang berbeda-beda. Jumlah Guru pun masih terbatas yakni hanya 8 orang. Dan guru berstatus ASN sebanyak 4 orang. termasuk Kepala Sekolah dan 4 orang guru berstatus masih tenaga honorer.

“Ya beginilah kondisinya, sejak gedung baru mulai ditempati, jumlah anak mencapai 35 anak saja. Mereka kebanyakan dari Kecamatan Tanjung dan Pemenang, sedangkan dari Kecamatan lain seperti Gangga, Kayangan dan Bayan belum ada,” ungkapnya.

Menurutnya, jumlah anak berkebutuhan khusus yang sekarang ini bersekolah tidak seperti yang ditampilkan pada data awal sebelum sekolah dibangun. Bahkan, kata Kasek, pembangunan SLBN Tanjung menjadi salah satu program 100 hari bupati pada 2016 lalu. Anggaran pembangunan SLBN pun cukup fantastis yakni mencapai Rp 2,4 miliar.

“Data awal dulu jumlah anak berkebutuhan khusus di Lombok Utara memcapai 400 orang. Kendati, sekarang hanya 35 saja yang bisa masuk. Karena kemungkinan jumlah tersebut merupakan data berkebutuhan khusus semua usia di Lombok Utara,”jelasnya.

Bagi Kasek, persoalan perhatian anak berkebutuhan khusus untuk dapat berinteraksi dengan masyarakat sosial sangat penting. Lalu, bagaimana mereka bisa berinteraksi di masyarakat sosial jika pemda tidak melibatkan diri ataupun memberikan perhatian kepada mereka.

Keberadaan SLBN di Lombok Utara ini seharusnya menjadi media bagi mereka. Minimal pada momen HUT Lombok Utara atau momen lainnya yang sifatnya sosial. Agar mereka menyadari berinteraksi dengan sesamanya meski berkebutuhan khusus juga.

Tetapi ketika pemda melepas secara utuh karena kewenangan berpindah ke provinsi tidak kemudian dilepas ataupun dibiarkan begitu saja. Karena mereka juga masyarakat Lombok Utara.

“Kita ingin anak-anak berkebutuhan khusus yang ada di kecamatan lain juga bisa bersekolah disini. Meski kendala geografis yang jauh juga dari sekolah,”pungkasnya.

(Eza)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here