Seruan Gerakan Intelektual dan Politik UAM
Foto: Anis Matta (ist)

oleh: Yusuf Maulana (*)

“Dari gerakan intelektual ke gerakan politik. Bersiap mewujudkan itu, akhi!”

Tafsiran atas satu bagian di isi pidato Ustad Anis Matta (UAM) di Medan kemarin (lihat di foto) seolah mengarah pastinya ditubuhkan satu wadah politik dalam waktu secepatnya. Ini tak berbeda dengan pernyataan seorang al-akh senior di Surabaya yang dikutip media bahwa gerakan pemikiran yang diasas Anis Matta bakal deklarasikan sebuah partai.

Sejatinya, kalau kita maknai secara mendalam, Anis Matta tidak sedang menguji keberanian para pendukungnya: Gerakan Arah Baru Indonesia (GARBI). Juga ia tak sedang mencari respons publik atas, katakanlah, manuver narasi ini. Justru Anis Matta tengah bicara tahapan atau fase yang mesti dilalui GARBI. Di dalamnya ada sekian tantangan dan perubahan lingkungan yang harus dipelajari dan dijawab GARBI. Kalau ini dimaknai kolaborasi, maka kolaborasi buat merancang Indonesia adalah mengacu pada tahapan yang dikemukakan Anis Matta. Selesaikan gerakan intelektual, lalu beranjak ke gerakan politik.

Yang namanya gerakan maka tidak bisa sporadis, emosional, atau sekadar ekspresi membandingkan dengan pihak tertentu (yang pernah terkait masa lalu, terutama). Disebut gerakan karena ada inisiatif bersama untuk mewujudkan agenda yang diperjuangkan, bukan hanya andalkan pemegang narasi. Pun ketika nantinya berupa gerakan politik. Tidak bisa hanya sandarkan pada pengalaman masa silam.

Gerakan intelektual ke gerakan politik; sebenarnya selain berupa fase, ini upaya untuk terus belajar. Gerakan politik itu luas wujud aksinya; beragam pengabdiannya ke publik. Jadi, Anis Matta sedianya tidak sedang mengatakan, “Kita akan bentuk partai politik!” Bukan begitu. Karena gerakan politik maka aktivis GARBI semestinya berlekas memahami pesan ini masih terkait dan kelanjutan fase gerakan intelektual. Bukan lompatan tiba-tiba yang langsung menciptakan gelombang. Anis Matta paham soal langkah yang bertahap sekalipun bentuk dan hasilnya dalam sejarah berbentuk gelombang perubahan sosial nan dramatis.

Jadi, poin penting kata-kata Anis Matta di Medan itu adalah seruan fase belajar. Implisit juga fase berkolaborasi. Dan ini tidak harus berdurasi pendek. Betul, ada tahapan dan dalam skala waktu. Kiranya hibernasi kapasitas Anis Matta yang diperbuat jamaah dakwah lama perlu dimaknai sebagai anugerah yang tak harus habiskan energi buat berdebat dan saling meremehkan. Rehat berupa kantuk di medan Badar dan Uhud malah nyata adanya dari bantuan Allah langsung. Sebagai mukjizat yang tak terduga.

Kantuk dalam masa perjuangan gerakan Islamis hari ini tak mesti menantikan masa kita dipaksa kantuk oleh Allah. Kantuk ada kalanya berupa kepenatan kita mendapati pola membosankan kawan sejamaah yang mengotot dengan cara-caranya belaka. Hibernasi kita memang seperti diniatkan, tidak kantuk persis langsung di medan juang. Tapi kita sering tidak perkenankan beraktivitas apa pun bukan karena satu tekanan; hal yang bisa dibaca sebagai “nasib” Anis Matta dalam beberapa tahun belakangan. Dan dalam batasan yang diberikan, di situlah nikmat mengantuk. Dalam kantuk akibat dibatasi ini dan itu, pikiran jernih yang direhatkan sudah saatnya ditampilkan buat kerja-kerja berpikir. Dan di situlah kesiapan hadapi perubahan gelombang zaman bukan lagi sebagai sikap “gumunan”, dalam bahasa Jogja.

Semestinya, aktivis pendukung dan loyalis Ustad Anis Matta syukuri fase dikantukkan–baik yang telah, masih ataupun akan–lalu jadikan pikiran yang direhatkan itu untuk menapaki fase demi fase gerakan. Bukan gumun ingin berlekas mendirikan partai politik, sementara kesiapan banyak hal terutama pemikiran untuk menopangnya belum ada atau masih alakadar.

(*) Penulis Buku Gerakan Islam

0
0%
like
0
0%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here