Revitalisasi Peran Masjid sebagai Pusat Peradaban Ditengah Wabah CoVid 19
Foto: (dok.pribadi)

Oleh: Rahmad Hidayat (*)


Snouck Hurgronje (1857-1936) adalah nama yang tak asing bagi banyak orang Indonesia, Dalam narasi sejarah Indonesia, ia banyak dikonstruksikan sebagai “aktor jahat” di balik takluknya Aceh oleh pemerintah kolonial, Snouck Hurgronje merekomendasikan 3 strategi penaklukan Aceh, yaitu dengan memisahkan Islam menjadi 3, pertama Islam Ritual, Islam yang an sich menjalankan aktivitas ritualnya. Kedua, Islam Muamalah yaitu Islam yang dijalankan untuk mengatasi permasalahan sosial masyarakat, ketiga Islam Politik, yaitu Islam yang menjadikan kekuasaan sebagai tujuan penegakan syariat. Untuk kelompok pertama Snouck merekomendasikan untuk dibiarkan, dan dipelihara. Sedangkan kelompok kedua, Snouck merekomendasikan untuk diawasi, dan kelompok ketiga, dihabisi.

Dalam karyanya berjudul The Achehnese, Snouck mengatakan bahwa: “semangat untuk melakukan perang agama yang sangat mengakar dalam ajaran Islam lebih terlihat lagi di kalangan masyarakat Aceh dibandingkan dengan mayoritas saudara-saudara mereka sesama muslim dari daerah-daerah lain.

Strategi ini ternyata terbukti ampuh untuk menaklukkan Aceh oleh Kolonial dan sampai saat ini rekomendasi Snouck ini masih sangat relevan dan masih terasa bergelanyut dalam nadi ummat.

Wabah CoVid 19 yang melanda dunia saat ini, termasuk di NTB dan khususnya di Lombok sebagai Pulau seribu masjid sangat mempengaruhi aktivitas masyarakat, baik secara sosial maupun secara keagamaan.

Dengan merebaknya wabah ini, Gubernur mengeluarkan edaran agar masyarakat tidak melakukan kegiatan pengumpulan massa. MUI pun akhirnya mengeluarkan fatwa dan rekomendasi agar sementara waktu, Masjid diliburkan untuk kegiatan ritual keagamaan, seperti shalat berjamaah dan shalat jum’at. Banyak masyarakat yang protes dengan rekomendasi ini, bahkan sampai saat ini, masih ada masjid yang tetap melakukan shalat berjamaah dan shalat jum’at. Dan disinilah kita melihat, bahwa saat masjid libur dan masyarakat melakukan SFH (Shalat From Home), kita melihat bahwa fungsi masjid sebagaimana rekomendasi Snouck tadi, bahwa islam Ritual inilah yang sangat subur, dan dipelihara, karena aktivitas masjid hanyalah menyediakan ruang ritual an sich sehingga ketika ritual itu diliburkan, maka masjidpun kehilangan ruangnya. Padahal Masjid sebagaimana kita ketahui dalam sejarah Islam, ia adalah pusat komando Gerakan dan Politik Rasulullah SAW, beliau adalah pusat pemecahan masalah sosial ekonomi masyarakat, dan ia juga adalah pusat ritual ummat. Jadi ketika, ritual diliburkan mestinya Masjid dapat menjalankan perannya yang lain.

Di NTB sendiri jumlah Masjid sekitar 5.500, dan hampir sebagian besar berdiri atas swadaya masyarakat. Masjidnya pun megah-megah kalau kita bandingkan dengan daerah lain di Indonesia.

Ditengah wabah Covid 19 ini, mau tidak mau kita harus mulai merevitalisasi peran masjid sebagai solusi bagi masalah sosial ekonomi masyarakat. Bayangkan saja kalau semua masjid di NTB melakukan pembagian sembako ke jamaahnya. Anggap saja 1 masjid menyalurkan sembako senilai 250.000 kepada 100 jamaahnya setiap bulan selama coVid ini, maka dana yang dibutuhkan hanya 25 juta rupiah. Kalau kita jumlahkan seluruh masjid di NTB yang berjumlah 5.500 itu maka dari Masjid saja menyumbang untuk penanganan Covid 19 sudah senilai 137,5 M/bulan dengan jumlah penerima manfaat sebanyak 550.000 jemaah. Angka 25 juta/bulan Ini menjadi sangat rasional dan mampu dijalankan oleh masjid selama Covid ini berlangsung. Terlebih kita akan menyongsong bulan suci Ramadhan, pasti akan terjadi lonjakan harga dan ekonomi akan melesu dengan adanya wabah ini, maka peran sentral masjid sangatlah dibutuhkan. Para takmir masjid perlu membuka lagi gembok masjid yang telah dipasang, tidak untuk menjalankan fungsi masjid sebagai pusat ritual ummat, tapi menjalankan fungsi masjid sebagai pusat pemecahan masalah sosial dan ekonomi ummat. Mari Bergerak..!!

Wallahu’Alam


(*) Sekretaris Umum Jaringan Pemuda Remaja Masjid (JPRMI) Wilayah NTB


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here