PUASA SEPANJANG HAYAT
Foto: dok

Oleh: TGH Khalilurrahman


Puasa Ramadhan adalah puasa yang sifatnya wajib dan diwajibkan Allah, sebagai tanda keimanan dan ketaatan.

Menilik dari makna bahasa dari ‘shiam’ sebagai ‘imsak’ atau menahan, maka ada puasa sepanjang hayat yang bisa kita wajibkan untuk diri kita sendiri dengan kontrol maupun takaran sepenuhnya ada di tangan kita.

Dalam kitab manaqib Imam Syafi’i, karya Al Baihaqi, disampaikan bahwa Imam Syafii Rahimahullah memberi tiga kemampuan “puasa” dan menjadikannya sebagai patokan dari tanda ketinggian derajat seseorang.

Yang pertama adalah puasa sunyi dengan kemampuan diri untuk menyembunyikan kemelaratan, sehingga orang lain menyangka kita berkecukupan karena kita tidak pernah meminta. Kita bukan ingin sombong, tetapi kita tidak ingin menampakkan kemelaratan yang kita miliki, apalagi menjadikannya sebagai komoditi.

Yang kedua puasa amarah, yakni kemampuan untuk menyembunyikan amarah, ataupun mengeksperikannya, sehingga orang-orang di sekitar mengira bahwa kita ridha. Tingkatan lebih tingginya adalah tidak marah padahal kita memiliki otoritas untuk marah.

Puasa yang ketiga adalah puasa hijab yakni kemampuan diri untuk menyembunyikan kesusahan, sehingga orang lain mengiramu selalu senang. Kondisi ini juga menyiratkan bahwa kita senantiasa berhusnudzan dengan apa yang Allah gariskan.

Kurang lebih 10 hari lagi kita akan menjalani ibadah puasa yang telah Allah tetapkan. Selanjutnya Allah akan menguji nilainya pada 11 bulan yang akan datang.

Mampukah kita mempuasakan diri kita?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here