Puasa Dan Bianglala Rasa
Foto: Cukup Wibowo

Oleh: Cukup Wibowo (*)

Ramadhan adalah bulan dengan kemenakjuban yang tak terbandingkan. Kemuliaan dan keberkahannya serupa bianglala rasa. Yang tak bisa dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya

Apakah sebuah keindahan rasa bisa berulang saat kehampaan membayang tanpa bisa dicegah? Apakah sebuah kesedihan memiliki alasan untuk hadir bila kegembiraan masih akan datang menjawab harapan di saat berikutnya? Apakah umur seseorang bisa menjamin untuk terpenuhinya setiap harapan justru ketika tak seorang pun berkuasa atas waktu? Semua pertanyaan itu menyeruak untuk kemudian memenuhi benak setiap orang ketika bulan Ramadhan yang penuh kemuliaan dan keberkahan itu sudah hampir tiba di usai harinya. Sebagaimana pertanyaan yang membutuhkan jawaban, bulan Ramadhan tak ubahnya bulan momentum dengan berbagai pertanyaan dan jawaban yang menyertainya. Pengalaman di bulan Ramadhan seakan menjadi testimoni hati bagaimana ketentraman, kesyahduan, rindu tanpa kecemasan, serta totalitas kepasrahan bukan lagi angan-angan bagi mereka yang menjalani sekaligus mentaati perintah-Nya lewat jalan puasa.

Namun begitu, di sudut kehidupan lain di bumi ini tak terbayangkan bagaimana Ramadhan harus dijalani oleh mereka yang dikepung oleh bunyi mesiu setiap saat. Peperangan yang brutal oleh konflik senjata yang tak berkesudahan, yang dialami oleh saudara-saudara kita di belahan bumi sana. Darah dan air mata mengalir jadi satu membasahi bumi. Sebagaimana halnya represi kekuasaan, tekanan sosial, dan bencana alam adalah kenyataan yang sungguh tak mudah untuk membuat hati tetap istiqomah. Di tivi, di koran dan majalah, di udara medsos, kita menyaksikan semua itu. Menjadi saksi dari kejauhan membuat kita tak bisa berbuat lebih selain hanya dengan berdoa. Tapi di situlah kekuatan doa. Bagi siapapun yang beriman, doa menjadi senjata paling dahsyat. Sudah banyak contoh, lantunan doa dapat mengubah sesuatu yang mustahil menjadi mungkin. Sebagaimana firman-Nya, “Dan apabila para hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka (jawablah) bahwasannya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran.” (QS. Al-Baqarah : 186).

Bulan Ramadhan adalah bulan dengan kemenakjuban yang tak terbandingkan. Kemenakjuban bianglala rasanya tak bisa dibandingkan dengan bulan lainnya. Ramadhan disebut bulan mulia karena Alqur’an diturunkan pada bulan itu. Sebuah petunjuk bagi manusia untuk tahu mana yang benar dan mana yang salah. Pada bulan Ramadhan itu juga terdapat sebuah malam yang keberkahannya lebih baik dari seribu bulan, yakni malam Lailatul Qadar.

Semoga di hari ke-29 puasa kita, keberkahan bulan Ramadhan Insya Allah bisa kita ejahwantahkan dalam praktek akhlak yang lebih baik setelah kita melatih diri hampir sebulan penuh.

(*) Sekretaris Dinas Perhubungan Kota Mataram

0
0%
like
0
0%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here