Pledoi Simpati
Foto: Ilustrasi Pinterest

Oleh: Yusuf Maulana (*)

Barang kali gegap gempita seruan simpati atas kejadian teror ditangkap berbeda oleh sebagian tokoh umat. Paris dan Selandia Baru seperti ada nuansa yang berlainan. Kesan ini wajar adanya meski tidak mesti benar atau salah mutlak. Pandangan karena informasi kurang dengan menyengaja membingkai informasi jelas beda. Barangkali yang lebih diperlukan adalah seruan bijak dengan berbasiskan data lengkap, tidak harus dini menyampaikan opini ke ruang maya, dan kecerdasan melibatkan simpati dukungan alih-alih hanya mengetuk seruan ketidakadilan.

Adanya sebagian tokoh umat bersikap bergegas memang kadang perlu disandingkan dengan keberadaan beberapa tokoh umat yang mudah bereaksi manakala pelaku sebuah teror ditengarai muslimin. Mereka yang acap lantang teriak Pancasila ini barangkali saja menjadi sasaran utama dan membentuk interteks sehingga tokoh umat seagama lainnya merasa perlu menghadirkan seruan ketidakadilan.

Rasa merasa didiskriminasi memang tidaklah baik, seakan kita terus melawan hanya karena tengah ditindas. Dan penindasan yang ada seolah bisa dilawan dengan seruan emosi. Sebaliknya, rasa peduli hanya ketika pada kasus berupa jatuhnya korban dari tindakan biadab saudara seiman kita, juga tidak beradab. Semua pelaku kekerasan teror pantas dikecam, tanpa harus menelisik siapa pelaku dan korbannya lebih dulu. Jangan sampai pembelaan kita menyeleksi dan melahirkan ambigu. Diam satu masa, gaduh luar biasa di lain masa; semuanya bergantung siapa korban dan siapa pelaku.

Pada titik ini, kepedulian dan respek pada umat lain yang diteror bisa diwujudkan dengan saling menjaga kekhusyukan mereka beragama. Sebagaimana terjadi di Selandia Baru selepas kejadian teror Jumat lalu. Bukan soal bila ada umat lain merasa perlu minta bantuan kita yang Muslim untuk berjaga di luat agar mereka aman beribadah.

Tentu harap cerdas dan tegas dalam melibatkan dan menilai urusan partisipasi toleransi ini. Toleransi sejatinya sudah lama berlangsung di tengah kita. Toleransi mungkin kadang hadirkan prasangka di antara sesama kita yang seagama; mengapa kalangan tertentu begitu gempita menawarkan jasa menjaga ritual dan tempat ibadah agama lain. Prasangka ini mestinya tak boleh hadir secara laten. Kita perlu cerdas, baik yang menuduh ataupun tertuduh. Jangan mudah mencurigai adanya proyek tertentu, ini buat satu pihak. Jangan pula mudah menawarkan diri kalau hanya demi motif mendakwa paling Pancasila dan memukul seteru seiman; ini bagi pihak lainnya.

Dan para tokoh umat kembali jadi anutan. Tahan untuk berkomentar dini. Tahan untuk bersikap ragu bersuara setelah jelas siapa korban dan pelaku. Tidak ada kerugian bila kita menunda penyebaran informasi demi motif menggugat ketidakdilan. Tidak ada mudharat bila kita menyegerakan suara dukungan setelah jelas bahwa korban itu seiman kita dan pelakunya kalangan yang tidak kita kategorikan mesti diwaspada.

Objektivikasi dalam toleransi, dengan demikian, amat relevan buat jadi metode beramal kita di tengah masyarakat majemuk. Kita jalankan internalisasi nash dan nilai sesuai fahaman kita, dan saat yang sama umat lain atau juga mazhab lain di agama kita merasa tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Semua natural, wajar, dan malah sama-sama membangun. Tidak ada agenda laten untuk subversi keimanan orang lain atau rongrongan pada seiman di mazhab beda.

(*) Penulis Buku Pergerakan Islam

0
0%
like
0
0%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here