Yusuf Maulana, Penulis Buku Gerakan Islam. (Foto: kanalntb.com/dok.pribadi)

Oleh: Yusuf Maulana (*)

Akhir pekan lalu, sedianya saya memberikan pensyarahan di sebuah institusi pendidikan bertajuk internasional yang dikelola para aktivis dakwah. Tema yang akan diberikan bagi para pendidik dan pegawai setempat adalah tradisi belajar dan mencari ilmu dalam (sejarah) Islam. Ketika beberapa referensi tengah dibaca untuk disampaikan ke audiens, pesan singkat masuk dari panitia. Majelis dibatalkan tersebab satu soal tentang—sebut saja—perasaan hati. Meski panitia yang kebanyakan anak muda mengetahui posisi saya aktif di sebuah ormas yang dipandang “pengkhianat dakwah”, mereka tetap ingin mengundang saya. Tapi tidak demikian di pikiran beberapa petinggi dan relasi di institusi itu. Ringkas kata, acara bersama saya batal.

Pada waktu tidak lama, saya ditelepon seorang kenalan di luar kota di Facebook. Seorang pengusaha yang pernah terlibat di gerakan dakwah sama dengan institusi di atas. Dia ingin berbincang seputar gagasan di beberapa buku yang saya tulis. Sang pengusaha ini belum memiliki langsung tapi sudah membaca beberapa bagian—entah dari siapa—konten buku saya, terutama, “Seteru Berjamaah”. Setelah telepon ditutup, dia menderingkan kembali ponsel saya dari seberang. Di percakapan kedua, tak dinyana isinya. Ringkasnya, ia berikan bantuan untuk penambahan dan perawatan koleksi Samben Library.

Dalam seteru berjamaah pada masa lalu dan (masih) berlaku hari ini, tak mudah untuk stabil dan kokoh menerima beda yang ada. Tak mudah untuk menepati—istilah Ustad Asep Sobari—mendahulukan ilmu di atas personal. Saya tak ingin menilai dua kejadian di atas sebagai satu kausalitas, ataupun yang satu berposisi hitam sementara yang lain putih. Tapi dari sang pengusaha yang saya tidak kenal dekat dan sekadar nama itu, satu persuaan dan penelisikan jejak-jejak saya di media sosial sudahlah cukup untuk memercayai apa yang disebut “mendahulukan ilmu di atas personal”. Tak peduli siapa saya dan di posisi mana saya, yang jelas dia tanpa pretensi apa pun memberikan untuk pemajuan keilmuan. Tanpa ada sangka dan pikiran macam-macam. Tanpa ada mengulik masa lalu apalagi pengontrasan.

Rasanya perih mendapati ujaran seorang putri salah satu pendiri gerakan dakwah (yang menjadi partai) ketika kini mantap penuh sadar berbaju (partai) lain. Sang putri sebutkan kelebihbaikan berdakwah di tempat anyar (partai sekular) dibandingkan rumah lama. Ini masih dimengerti. Tapi, mengapa dia harus membandingkan sembari membuat kontras penghinaan?

Terinspirasi sang pengusaha dan kasus putri pendiri partai, saya terbetik untuk berbagi. Berbagi khazanah yang memang sudah sukar dicari, padahal kandungannya begitu berharga. Semoga ini hanya sebentuk terima kasih pada rumah lama, dan tetap jadi referensi memadai untuk langkah ke depan di tempat baru. Semoga beberapa kawan yang kini menjauh, mengembargo, menolak bersua dan bercakap, menaati guna enggan membaca karya saya, dan tindakan serupa, berkenan menerima persembahan bacaan penting ini. Sekadar hadiah.

(*) Penulis Buku Pergerakan Islam

0
0%
like
0
0%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here