Pernikahan di Bawah Umur Mendominasi di KLU
Foto: Ketua LPA KLU, Bagiarti. (KANALNTB.COM)

LOMBOK UTARA, KANALNTB.COM – Sebanyak 18 kasus kekerasan seksual dan pernikahan usia dini sudah ditangani oleh Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kabupaten Lombok Utara (KLU) pada estimasi bulan januari hingga maret tahun 2019. Dari puluhan kasus tersebut pernikahan dibawah umur masih mendominasi di Kabupaten termuda di Nusa Tenggara Barat (NTB) itu yakni sebanyak 8 kasus.

Baca Juga:

“Kasus pernikahan di bawah umur ini kurang Iebih ada 8 kasus itu dari awal 2019 sampai dengan bulan ini. Kasus ini masih mendominasi ketimbang kasus lain,” ungkap Ketua LPA KLU, Bagiarti saat ditemui wartawan, Selasa (12/3).

Bagiarti menegaskan, dari estimasi bulan ini kasus serupa memang menurun dibandingkan tahun lalu, dimana, pada sepanjang tahun 2018 lalu sekitar 38 kasus.

“Kita belum bisa prediksi untuk tahun ini, karena ini baru bulan ke tiga,” tegasnya.

Untuk antisipasi sendiri agar kasus ini dapat ditekan lanjutnya, pihaknya tentu tidak tinggal diam. Pihaknya terus berupaya melakukan pencegahan dengan menggelar sosialisasi ke masing-masing sekolah dan desa-desa yang ada di KLU.

“Yang kita sasar itu sekolah. Didesa itu juga hampir semua kita sasar untuk mencegah kasus itu,” katanya.

Bagiarti menjelaskan, untuk kasus pernikahan dini ini tidak ada korelasinya dengan bencana alam gempa bumi yang melanda KLU beberapa waktu lalu, tetapi berbeda dengan kasus kekerasan seksual, tentu sangat berpengaruh sekali karena persoalan belum adanya rumah dan terlalu lama dipengungsian, sehingga hasrat seksual mereka itu bergejolak dan disalurkan ke orang lain.

“Kekerasan seksual ini penyelesaianya itu langsung masuk ke ranah hukum, sementara untuk pernikahan dini sepanjang kedua belah pihak itu masih dibawah umur kita upayakan pemisahan, dan kita lakukan rehap psikologi mental selama satu bulan,” ujarnya.

“Tetapi, untuk pasangan pernikahan dibawah umur ini, jika pasangannya itu sudah sesuai umur maka ranahnya masuk pidana,” imbuhnya.

Lebih lanjut Bagiarti tidak menampik bahwa salah satu kasus gagal ditangani, karena, yang perempuan itu kabur dan kekeh untuk melakukan pernikahan meski dari pihak LPA sudah melakukan pemisahan.

“Memang kita kemarin itu gagal, tapi kita sarankan jangan menikah dulu sebelum ada legalitas. Persoalan ini terjadi karena kurangnya komunikasi antara orang tua dan anak,
itu juga masih budaya kita disetiap orang tua itu marah selalu di suruh nikah meski itu bercanda,” pungkasnya.(Eza)

0
0%
like
0
0%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here