Oknum Fasilitator di KLU Diduga Hambat Pencairan Dana RTG
Foto: Direktur Utama Kumac, Hun Hanie (KanalNTB.com)

Lombok Utara, KanalNTB.com – Aplikator Rumah Tahan Gempa (RTG) Kumac (Kuat Mudah Aman dan Cepat) mempertanyakan sikap salah seorang oknum Fasilitator yang terkesan menyepelekan dan diduga menghambat pencairan dana RTG meski sudah terbangun 100 persen. PT. Kumac Platpac House dengan jenis bangunan Kumac merupakan RTG ke 8 yang mendapat rekomendasi Kementerian PUPR mengklaim sejak dua bulan RTG terbangun belum menerima pembayaran tahap kedua yang jumlahnya mencapai Rp 1,2 miliar.

“Saya belum paham alasan Fasilitator yang tugasnya hanya mendampingi malah terkesan mempersulit pencairan dana RTG yang sudah selesai kami kerjakan,”ungkap Direktur Utama Kumac, Hun Hanie, Kamis (7/11).

Dijelaskannya, dalam perjalanannya selama ini Kumac tidak pernah menemui masalah. Produk Kumac tersebar di semua Kecamatan hampir semuanya tidak ada masalah. Namun, di pencairan Kumac yang di Desa Gili Indah ini terkesan dipersulit oleh fasilitator.

“Di Gili Indah hanya 47 RTG Kumac yang sudah 100 persen kami bangun namun belum bisa dicairkan lantaran Fasilitator enggan mendampingi pokman dalam pencairan. Alasannya bermacam-macam mulai dari persoalan DED speck hingga ada beberapa warga menolak karena dianggap tidak sesuai harapan,”paparnya.

Jika memang itu yang dipersoalkan, katanya, bukti-bukti rekomendasi yang diajukan awal oleh perusahaan sudah tentunya akan membantah hasil uji lab dua profesor dari ITB dan Unram yang sudah tidak diragukan lagi keilmuannya. Tentu hasil mereka pastinya tidak disetujui Kementerian PUPR jika RTG ini tanpa melalui uji Lab.

Menurutnya, yang di persoalkan fasilitator mengada-ada. Karena setiap kali rencana pertemuan, fasilitator selalu mangkir. Padahal, perusahaan telah menjamin semua pekerjaan RTG Kumac sudah sesuai spesifikasi. Bahkan perusahaan memberikan garansi sesuai keinginan masayarakat.

“Kami beri jaminan berupa garansi 25 tahun. Jika ada keluhan kami langsung realisasikan meski hanya soal cat yang mengelupas pun kami akan perhatikan,”ungkapnya.

“Garansi yang kami berikan berupa anti air, rayap, api hingga anti tikus maupun ayam bahkan jika terjadi gempa lagi dan rusak kami akan ganti baru. Karena setruktur Kumac itu menggunakan bahan stroepom yang dilapisi piber,”sambungnya.

Lebih lanjut, yang menjadi pertanyaan adalah kenapa sekarang ini beberapa oknum warga dan fasilitator itu mempersoalkannya setelah lima bulan mereka tempati rumah RTG Kumac itu. Perusahaan juga tidak ucuk-ucuk memulai membangun tanpa ada SPK yang ditandatangani oleh pokmas. Karena dua Pokmas di Gili Trawangan dan Meno juga tidak mempermasalahkannya. Buktinya mereka warga penerima RTG sudah menandatangani berita acara kesepakatan bersama untuk memulai membangun.

“SPK keluar tanggal 3 Juli dan selesai satu bulan setelah kontrak ditandatangi. Harusnya sekarang ini kami sudah menerima pembayaran itu karena sudah tiga bulan selesai 100 persen. Namun apa yang kami terima sekarang ini, fasilitator tidak mau mendampingi pokmas untuk pencairan,”pungkasnya.

“Tapi kami tidak ingin terburu-buru mengambil sikap karena kami masih mengedepankan mediasi. Parahnya, Kalak BPBD pun terkesan tidak merespon kami,”sambungnya.

Baginya, membantu percepatan pembangunan rumah warga adalah yang utama. Karena dari awal, orientasi perusahaan hanya ingin rumah warga terbangun cepat aman dari gempa dan sehat serta bisa menemptinya.

Baca Juga:

“Saya akan segera koordinasi dengan Kalak. Jika memingkinkan BPBD bisa menghadirkan fasilitator itu sendiri,”tamdasnya.

(Eza)

0
0%
like
0
0%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here