Muda, yang Dibingkai Doa
Foto: Ilustrasi Pinterest

Oleh: Yusuf Maulana (*)

Mesti ada dari umat ini Ibnu Sina era digital, yang cakap ilmu agama dan dunia. Yang sejak balita sudah biasa menimba ilmu dari ayah bunda. Yang sebelum genap 10 tahun sudah hafalkan Quran. Yang 18 tahun segenap ilmu sudah dikuasai. Hingga selepas itu autodidak mengombinasikan kemampuan merangkai pengetahuan dunia bagi pemajuan agama.

Begitulah Ibnu Sina hadir. Kecakapan ilmu nan rumit mampu ia tuntaskan dalam bilangan purnama. Tak heran bila sang guru dalam ilmu medis, Isa Ibn Yahya, dapat dilampaui kemampuannya dalam umur kita setamat SMA.

Biarkan satu Ibnu Sina yang hadir. Tak mengapa sang guru, banyak guru pernah dampingi dan ajarkan pada Ibnu Sina, dapat “dikalahkan” kecakapan dan keakuratan meneliti. Kelak sejarah hadirkan kebesaran hingga berabad-abad kemudian ketika al-Qanun fi al-Thibb dan asy-Syifa jadi rujukan dunia medis Eropa modern.

Hanya satu nama Ibnu Sina, tak perlu ada deretan nama pihak yang berandil membesarkan ia. Guru-guru yang berjasa atau orang biasa yang bekerja di setiap observasi atau eksperimen Ibnu Sina, hanya tertutup kebesarannya. Tak mengapa. Tak semua mesti disebut besar serupa Nashiruddin al-Thusi yang banyak hadirkan anak didik masyhur semisal asy-Syirazi, Ibn Syathir, dan al-Maghribi. Saban nama Ibn Syathir disebut, al-Thusi pun diujar. Serupa asy-Syafii yang dipandang kala orang bicara an-Nawawi. Atau Abu Hamid al-Ghazali niscaya membawa Imam al-Haramain al-Juwaini. Atau kalau mau yang kiwari: Muhammad al-Ghazali dan anak didiknya yang cerdas lagi kritis: Yusuf al-Qaradhawi.

Begitulah takdir tiap nama besar kala Allah hadirkan. Ada yang membawa gerbong orang besar yang berandil memunculkan ataupun mendidik telaten. Tapi, lebih sering pula nama besar itu hadir eksklusif. Seolah muncul sendiri tiada pihak yang perlu disebuti. Padahal, baik si empu kebesaran dan para pengandil kebesaran tidak menuntut demikian.

Kebesaran, juga pembesaran, adalah kerja peradaban ilmu yang melingkupi perorangan sekaligus komunitas kolektif bernama umat. Di balik ikhtiar menghadirkan sosok penting dalam satu zaman, ada kerja bareng. Disengaja atau tidak. Dirancang atau tidak. Demikian pula dalam masa kita yang baru pada fase hadirkan semangat berislam.

Ada nama-nama anak muda membawa asa baru hadirnya Islam serupa masa kejayaan. Entah sesosok ustad dengan kedalaman ilmu dan mulianya menjunjung adab. Entah sesosok ustad dengan kedalaman observasi dalam sains bersendikan Tauhid. Atau semisal sesosok penghafal Quran dalam lantunan penuh getaran jiwa. Di semua contoh ini ada ragam kerja bareng memunculkan mereka. Dan hal biasa bila mereka tampil menyeruak meninggalkan para pengandil tadi; sang anak didik melampaui kebesaran nama guru-gurunya. Harap tidak silap: kebesaran nama, bukan keberkahan. Soal keberkahan, biarkan itu wewenang Allah yang Maha Membandingkan.

Di balik tampilnya mereka, mestilah ada kagum banyak awam yang menimba kebaikan nan elok mereka. Kekaguman yang kadang meluputkan sesiapa saja yang berandil di semua itu. Refleks kita pun hadir: ingin ikuti mereka. Menjadi penjaya umat yang tampil dominan di publik.

Sayang, kita luput: hanya cukup satu Ibnu Sina; sisanya biarlah jadi pengader dan selebihnya lagi jadi penimba ilmu darinya. Meski hanya jadi penimba, tak buruk kedudukan ini di hadapan Allah. Ada peran yang memang pantasnya diberikan pada orang lain. Bahkan seorang guru dari Ibnu Sina pun mestilah ikhlas untuk ditinggalkan jauh di bawah nama besar anak didiknya itu.

Begitulah peran kesejarahan dalam kebesaran-pembesaran umat ini dimainkan. Dengan demikian, kekaguman pada talenta muda umat yang jadi kebanggaan tak jatuh pada pengidolaan yang dangkal; apatah lagi pada masa media sosial dirayakan sebagai kewajaran berdangkal pikiran ria. Kekaguman kita tak jatuh pada hal dangkal. Tidak mewujud dalam ekspresi keislaman yang simbolik. Hanya latah merayakan kebungahan tanpa ada kesakralan menjaga barakah.

Agar tak jatuh pada kedangkalan itulah yang mesti dihindari, syukur dijauhi, sebab kerja membina kebesaran-pembesaran peradaban umat pun terfokus. Tidak terinterupsi hal remeh yang tak penting. Teramat banyak tugas yang mesti dikerjakan umat. Dan umat, sayangnya, masih salah prioritas dalam menentukan mana-mana yang mesti dikerjakan lekas, dan mana yang cukup didiamkan tuntas. Termasuk peran-peran kaum muda aset dan dambaan umat.

Sepatutnya darah muda itu direkrut dalam kerja kolaborasi tak semata bagian dari elektoral. Harusnya mereka dibingkai kemukalafannya di masa—katanya—disrupsi ini dengan cetak biru berpikir ke depan. Swarm intelligence dan knowledge management yang dibahas ekstensif di negeri yang pad aAbad Pertengahan pendukung Byzantium, di umat hari ini hanya jadi narasi elit dan (seolah) tak menjejak. Padahal, tradisi ini tak asing semasa Ibnu Sina dan masa-masa sebelum ataupun setelahnya.

Seberapa serius, sistematis, dan masih kita menempatkan darah muda di lanskap pergerakan kita, jauh lebih penting ketimbang sekadar membanggakan elan vital kemilenialan mereka. Jangan-jangan gerakan kita sekadar bangga dengan banyaknya partisipasi milenialis, namun sebenarnya yang ada hanya segerombolan manusia yang gamang dalam memahatkan dedikasi. Di situlah sebenarnya makna kehilangan arah kemudi benar-benar nyata adanya.

(*) Penulis Buku Gerakan Islam

0
0%
like
0
0%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here