Muda dalam Kuasa
Foto: Penulis Buku Pergerakan, Yusuf Maulana. (dok.pribadi)

Oleh: Yusuf Maulana (*)

Saya berupaya memahami zaman. Bahkan perkembangan pikiran atau pengetahuan manusia yang kononnya kian meluas terkoneksi dengan ragam pikiran di belahan dunia mana pun.

Untuk urusan mendapuk anak muda, saya respek dengan melihat kematangan berpikir kebangsaan. Dan itu mereka titi sejak pelajar menengah atau lebih muda lagi dengan terlibat dengan pikiran para bapak bangsa: membaca teks yang teranggap usang. Kedua, mereka terlibat secara sadar dalam gerakan sosial. Bukan program insiasi pemerintah.

Barangkali ini bias angkatan, saya yang pernah alami masa Orde Baru hingga ikut aksi reformasi 1998. Bisa pula bias seorang yang terjun di alam pergerakan. Yang terang, kemudaan di benak saya adalah seturut bagaimana generasi Sukarno, Hatta, Natsir, Sjahrir dan nama lainnya semasa ketika terjun di alam kemerdekaan. Mereka matang dari menyelami zaman lewat kerja pikiran dan pengetahuan infklusif bergandengan narasi (malah kadang berseteru narasi).

Alam kontemplatif lebih membentuk jati diri pikiran ketimbang putusan cepat. Anak muda di era gawai dan jagat digital marak sejujurnya abai hal ini secara rerata populasi. Sekali lagi, ini tak menutup hadirnya bias dari saya.

Sebenarnya intelektualisasi masa kini masih berjalan. Hanya kalah mentereng dalam publikasi tinimbang soal bisnis. Tendensi bisnis dan digital seperti keharusan, dan mengatasi soal-soal berfilasafat sosial. Kreativitas dan inovasi diukur dengan menegasikan, diam-diam, sesiapa yang larut dalam proses panjang: filsafat sarat kontemplasi dan dialektika. Produk nyata pun jadi ukuran kemajuan identitas zaman kaum muda. Bukan yang berpayah hanya berpikir, membaca, bergerak bareng massa.

Harus diakui jua, intelektualisme tak selalu aktivisme. Dan betapa kerap produk aktivisme temaram riwayatnya ketika duduk di pusara kekuasaan. Intelektualisme juga demikian. Tapi ia masih sisakan harapan. Sebab masih ada perlawanan nurani dari mereka yang enggan berlindung pada hegemoni penguasa.

Di sinilah makna penting komitmen praksis kebangsaan itu. Dan di sini pula jadi alamat apakah anak-anak muda pilihan penguasa bisa hadirkan sesuatu yang patriotis tanpa melalui jalur aktivis ataupun intelektual. []

(*) Penulis Buku Pergerakan

0
0%
like
0
0%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here