Hasrat Setara
Yusuf Maulana, Penulis Buku Gerakan Islam. (Foto: kanalntb.com/dok.pribadi)

Oleh: Yusuf Maulana (*)

“Ibnu Ishaq itu Dajjal!”

Sekonyong-konyong perkataan itu keluar. Bukan dari lisan orang awam, pemabuk, atau zindik. Ia keluar dari sosok terpandang yang semua orang di Madinah tidak akan berbicara soal hukum sebelum ia berbicara: Malik ibn Anas. Apa pasal Imam Malik, penyusun al-Muwaththa’, ini begitu berang hingga keluar kata-kata yang bikin umat bergidik?

Muhammad ibn Ishaq, secara usia, di atas Imam Malik. Ibnu Ishaq adalah pemegang otoritas penulisan sirah nabawi, yang pada masa itu dikenal sebagai maghazi. Ibnu Ishaq sendiri di kalangan para ahli ilmu madrasah tertentu memang sering jadi perbincangan; salah satunya ia teranggap dekat—atau bagian dari—Syiah. Bukan karena soal ini Imam Malik men-dajjal-kan Ibnu Ishaq.

Ibnu Ishaq memiliki kawan lebih tua yang juga penulis sirah nabawi; namanya Musa ibn Uqbah.

“Siapa yang ingin belajar sirah, maka belajarlah pada maghazi Musa ibn Uqbah!” seru Imam Malik.

Hari ini pun, ketika Ibnu Ishaq masih “belum diterima” untaian ulasan pena miliknya karena ada syubhat-syubhat tertentu, al-Maghazi Musa ibn Uqbah jadi rujukan. Saya pernah mendengar seorang alim madrasah Ibn Taimiyah dalam soal sirah dari negeri jiran yang menyebutkan karya paling sahih soal sirah nabawi adalah buah pena Musa ibn Uqbah, alih-alih karya Ibn Ishaq.

Yang menarik, Imam asy-Syafi’i, murid kesayangan Imam Malik memiliki pendapat berbeda. Alih-alih menerima begitu saja ucapan dan penghakiman sang guru, Imam asy-Syafi’i malah berkata tandas, “Siapa yang ingin mendalami dan luas ilmunya tentang maghazi, maka ia akan bergantung pada Ibnu Ishaq.”

Pakar sirah nabawi, Ustad Asep Sobari, yang menjadi sumber kisah Malik-Musa-Ibnu Ishaq di atas, berkata tentang “keberanian” Imam asy-Syafi’i tersebut, “Itulah bentuk adab, ketawadhuan, dan daya kritik. Ilmu lebih tinggi dari orangnya, harus objektif.” Ya, meski sang guru menilai lain pada Ibnu Ishaq, Imam asy-Syafi’i mempunyai kesimpulan tersendiri yang bisa dipertanggungjawabkan tentang Ibnu Ishaq.

Dalam tradisi keilmuan yang pernah mewangikan lembaran sejarah, amatlah biasa berbeda pendapat. Berbeda guru dengan sekian bentangan beda yang juga lebar, semua itu biasa saja. Meski kata-kata begitu keras, kasar, dan—tentu saja—menyakitkan hati bagi yang mendengarkan, percayalah bahwa itu memiliki rumusan tersendiri yang khas antara pengkritik dan yang dikritik. Para murid mungkin bisa pakewuh, risih, menolak “fatwa” sang guru, tapi ternyata itu bukan alasan untuk hanya jadi pak turut. Seperti Imam asy-Syafi’i yang menempuh suara berbeda dalam memosisikan Ibnu Ishaq.

Malu rasanya bila diri ini yang berilmu biasa-biasa saja masih melarang-larang penuh ancaman dan gertakan. Menegaskan pula dengan kabar siap dipecat dari jamaah pada para penyetia hadirin di majelis ilmu berbatas kita. Semuanya hanya karena hasrat dan dahaga sangat anak didik kita untuk menoleh di majelis lain yang diasuh seteru kita. Seburuk apa pun sangka kita pada majelis dan pengasuh seberang, tak beradab bila pikiran kita turut memaksa anak-anak muda untuk melampaui kita. Siapa tahu itu jalannya melampaui para gurunya. Dan di situlah kadar keikhlasan kita diuji.

Kita bukan Imam Malik, amat jauh bak langit dan bumi dari segi amal dan karya. Kita tak pantas menisbat lantas menjadikan hujah untuk membiasakan lemparan kata-kata membinasakan di telinga dan ulu hati anak-anak didik kita. Ada ilmu di balik ucapan keras lagi kasar Imam Malik. Belum lagi soal metafora berbahasa tinggi para anutan umat. Dan tentu ia paham konsekuensinya.

(*) Penulis Buku Pergerakan Islam

0
0%
like
0
0%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here