Mayat Kiriman Cao Cao
Foto: Mayat Kiriman Cao Cao

Oleh: Yusuf Maulana (*)

Ratusan pasukan darat penyergap harus menderita kekalahan. Tak kalah banyak, pasukan juga mati sekarat menderita penyakit menular.

Yangtze menjadi saksi bagaimana seorang ambisius nan sombong melampiaskan kekalahan tadi. Mayat prajuritnya tidak dikremasi, tapi dioperkan ke kawasan lawannya. Satu misi: agar sakit menular yang ada pada mayat menulari para prajurit atau rakyat pendukung Zhou Yu, Sun Quan, dan Liu Bei. Cara efektif dan efisien membunuh kawan tanpa biaya! Soal kemanusiaan dan kepantasan, lupakan.

Mengalihkan sakit mematikan kepada lawan. Frasa ini mesti diingat ketika “serangan total” dikumandangan para jenderal lingkaran satu petahan. Ada fakta penggerusan elektabilitas dari blunder demi blunder yang diperbuat. Keyakinan tidak mungkin derita kekalahan, yang diperkuat survei-survei lembaga yang disewanya, berkebalikan dengan perilaku di lapangan.

Target menggilas lawan pun dihamburkan. Mengesankan situasi kontestasi sekarang petahana bak oposisi, oposisi malah sebagai penguasa. Mereka menempatkan diri underdog dalam mendekatkan diri pada pemilih. Mental kekalahan sudah tampak di depan mata akibat kegopohan menyerang di lapangan tanpa keruan—semisal kasus Jumatan dan pemanggilan CEO BukaLapak. Bisa dimengerti bila dalam ajang adu jurus di majelis debat, serangan langsung menukik tanpa ada memori balas budi pun bakal diperbuat. Sayangnya, penantang petahana memiliki kelemahan mendasar di sini. Kelemahan yang tak dirisihkan untuk disembunyikan. Dan ajang tarung kali kedua pun memperlihatkan jurus menyerang malah ada pada petahana alih-alih penantang.

Dalam melawan kekuasaan serupa Cao Cao, sang jenderal penantang amatlah naif dan menggemaskan. Peperangan yang diawali tindakan biadab dusta berlapiskan keluguan, jenderal penantang malah tampak loyo atas nama jargon negarawan. Tidak ada kegesitan menghunjamkan pedang ala Zhou Yu. Yang ada ketegasan membela etika menghormat pada lawan. Soalannya, ini perang; bukan jamuan makan siang! Ditambah lagi bila penantang paham kelemahan elementer ini.

Sang jenderal oposisi lupa fatal, petahana dan gang pendukungnya, sebagaimana Cao Cao pernah tumbang di pertempuran pra-Tebing Merah, masihlah pasukan berkekuatan berkali lipat. Kekalahan memalukan harus dibalas. Gaduh di jagat dunia soal uninstall mesti dipikirkan untuk membuat perhitungan tindakan efektif, brutal sekalipun. Akan ada taktik kotor serupa onggokan mayat berpenyakit menular untuk mematikan lawan.

Dan umpan “mayat” itu berupa isu-isu yang seakan dikuasai petahana. Unicorn, sebut saja. Penantang kurang lihat membaui apakah ini sekadar sampah di sungai ataukah mayat serangan biologi? Penantang di adu jurus semalam tampak lengah dari membaca rancangan taktik para opsir isu kubu petahana. Apakah opsir di kubu penantang tidak membawa bakal adanya serangan semodel unicorn? Bau suara-suara itu ditepiskan jenderal penantang sepertinya lebih kuat ketimbang tidak ada sama sekali bisikian buat menggoreng isu menawan—konon—bagi para pemilih segmen generasi milenial.

Jenderal penantang terlalu percaya diri dengan kemantapan strateginya; lupa ia bagaimanapun perlu opini kedua dai Zhuge Liang. Ke depan, belajar dari kekeliruan membaca “mayat” unicorn dan kejadian serupa, jenderal penantang harus trengginas dan tetap bestari dalam bijak; tidak bisa salah satu saja, khususnya terlampau lembut seolah memadai bicara satu arah sebagaimana diperbuatnya di mimbar-mimbar kerajaan garuda merah.

Selepas adu jurus yang memosisikan penantang bak orang kalah, hal wajar bila penyorak di kubu pemegang kekuasaan bakal memandang remeh penuh hinaan. Dan sekarang kita bisa saksikan mereka membuat serangan pada kekeliruan strategi penantang. Menyerang penuh keriangan untuk menutupi sakit yang didera selama ini akibat blunder demi blunder sepekan terakhir. Malahan yang bakal lebih besar adalah taktik sebar penyakit itu. Menyebar rasa sakit agar para opsir utama dan pendulang suara pelawan petahana “ngeper” dan ciut untuk melanjutkan konsolidasi dan serangan balasan.

Ketika blunder taktik total menyerang petahana berujung nestapa dan memalukan, jenderal penantang mestinya lebih arif keluar dari bayang-bayang kenegarawanan yang dipeganginya erat lagi kaku. Ini bila ia mau keluar sebagai pemenang dan menuruti suara nuraninya untuk membantu rakyat yang diracun rezim selaksa Cao Cao.

Di peperangan ganas dengan embusan fitnah, terdengar absurd bicara konsistensi pada atas nama kredo etika: enggan membalas serangan atau—paling tidak—membuat hunjaman yang mencerdaskan dan menakutkan lawan. Tidak disarungkan pedangnya hanya karena bakal melawan kredo diri untuk enggan menyerang soalan-soalan kelemahan lawan. Sekali lagi: ini peperangan; bukan meja jamuan makan siang.

(*) Penulis Buku Pergerakan Islam

0
0%
like
0
0%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here