Libur Corona, LPA Temukan Puluhan Siswa-Siswi di KLU Menikah Dini
Foto: Ilustrasi

LOMBOK UTARA, KanalNTB.com – Lembaga Perlindungang Anak (LPA) mencatat angka kasus pernikahan anak usia dini di Kabupaten Lombok Utara (KLU) meroket tajam tahun ini. Hal tersebut disababkan libur yang terlalu panjang akibat mewabahnya virus corona desease covid-19.

Ketua LPA KLU, Bagiarti SH mengungkapkan, ada sekitar 60 kasus pernikahan anak usia dini yang saat ini ditangani LPA. Kasus tersebut di dominasi oleh siswa-siswi setingkat SMP dan SMA.

“Ada sekitar 45 persen bisa kita pisahkan, tapi sisanya itu melanjutkan menikah karena faktor x yang kemudian dilanjutkan dengan permohonan dispensasi,”ungkap Bagiarti yang juga Anggota DPRD KLU itu pada wartawan, Rabu (9/9).

Politisi Partai Demokrat itu menjelaskan, jumlah pernikahan anak usia sekolah ini merata di semua kecamatan di KLU, yang paling banyak itu di kecamatan Bayan dan Kayangan, dengan rincian Bayan sebanyak 25 kasus, Kayangan 30 kasus dan sisanya menyebar di kecamatan Gondang, Tanjung dan Pemenang.

“Ini saya rasa belum terdeteksi semua, LPA mensinyalir masih banyak kasus serupa terjadi di KLU, bahkan yang belum terdeteksi ini di salah satu sekolah itu ada sekitar 40 pasang siswa yang melakukan pernikahan. Ini yang sedang kita telusuri, kalau ini terlapor keseluruhannya saya rasa lebih dari ratusan kasus,” jelasnya.

Melihat banyaknya angka kasus pernikahan dini di kabupaten termuda di NTB ini, pihaknya atas nama LPA berharap kepada pemerintah untuk mencari solusi terbaik dengan menguatkan regulasi-regulasi yang harus segera dibuat sebagai upaya pencegahan perkawinan usia dini.

“Kami juga mengimbau supaya lembaga pendidikan ini segera dibuka kembali karena pihaknya berfikir akibat libur yang terlalu lama ini merupakan salah satu faktor penyebab melonjaknya angka pernikahan dini. Karena kita lihat rata-rata angka pernikahan dini sekarang ini merupakan usia sekolah,”tandasnya.

Menanggapi persoalan tersebut Bupati Lombok Utara Dr. TGH. Najmul Akhyar SH.,MH. mengatakan, pada acara Apkasi di Jakarta belum lama ini pihaknya juga sudah menyampaikan persoalan itu dan meminta langsung kepada menteri pendidikan untuk segera mengaktifkan kembali proses belajar-mengajar di sekolah, tapi tentu dengan memperhatikan protokol covid-19.

“Kami selalu sampaikan itu (membuka kembali sekolah-sekolah.red) Meskipun umpamanya membagi dua metode belajar entah itu secara absensi, misalkan absen ganjil itu masuk pagi dan absen genap siang, atau dibagi perkelas, kelas 1, 2 dan 3 masuk pagi dan 4,5,6 masuk siang. Ini cara kita mengurangi interaksi anak-anak di sekolah,”katanya.

Pihaknya selaku Bupati Kabupaten Lombok Utara sangat berharap kepada menteri pendidikan supaya segera berfikir karena, salah satu cara untuk mencegah persoalan-persoalan baru saat ini adalah memasukan kembali anak-anak ini ke sekolah tentu dengan memperhatikan protokol covid.

“Bagaimana caranya tentu pak menteri yang fikirkan. Entah dengan cara menambah fasilitas anak-anak kita dengan memberikan masker, mengatur jarak duduk di ruangan ya itu pak menteri yang fikirkan,”cetusnya.

Pemda sendiri lanjut Sekjen APKASI itu, saat ini posisinya sedang menunggu regulasi dari pusat, sepanjang itu pak menteri pendidikan yang perintahkan untuk masuk kembali kenapa tidak. bahkan Najmul mengaku sudah berbicara dengan seluruh kepala sekolah di KLU melalui virtual meeting, dan jawaban dari para kepala sekolah, mereka sangat mengharapkan agar anak-anak ini segera kembali masuk sekolah.


Baca Juga:


“Selama ini belajar melalui daring itu tetap kita lakukan, tetapi ingat keterbatasan yang ada karena anak-anak kita di KLU tidak semuanya memiliki alat yang dibutuhkan. Selain itu dengan berlama-lama di rumah ini tidak semua orang tua bisa menjadi guru yang baik bagi anaknya. Jadi tidak efektif guru-guru juga berkeliling ke ratusan muridnya,” pungkasnya.


Penulis: Eza

Editor: hmn

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here