Foto: ist

Oleh: Yusuf Maulana (*)

15 hari, setengah bulan lamanya menuju 27 Mei. Tanggal lahirnya Ibnu Khaldun pada 1332, dan syahidnya Lois Lamya Faruqi Ibsen pada 1986. 27 Mei karenanya momen dua airmata, bahagia dan kehilangan, dua tokoh yang mendapat tempat di hati saya.

Antara bahagia dan kehilangan adalah rasa yang menggelayut 15 hari sebelum 27 Mei. Dini hari 12 Mei, dua rasa itu hadir. Momen yang lazim dan biasa sebenarnya bagi seorang ayah menanti buah hatinya. Rapal doa dimunajatkan banyak-banyak. Tawasul pada ahli ilmu dan adab yang hidup diharap. Dan tangisan melengking di jelang masa akhir sahur pun menerbit.

Perempuan. Teringat 27 Mei. Kedua tokoh tadi terukir di Ramadhan. Tepat dengan amanah kali keempat patik. Tak perlu waktu lama, Lamya Faruqi terpilih sebagai nama.

Maka, jadilah Emira Lamya Faruqi, istri pencetus islamisasi ilmu dan IIIT (International Institute of Islamic Thought) bakal ditera di akta lahir. Dengan sememayungi awan doa agar bisa menjadi pencinta dunia pengetahuan dan peneliti ulet dalam kebudayaan Islam. Serupa empu nama yang putri dramawan besar Norwegia, Henrik Ibsen, itu. Semoga asa ini satu bagian dari kontribusi mengisi makna keberkahan bila buah hati tertitip pada kita sebagai riwayat Abu Musa radliallahu ‘anhu:

“Ketika anakku lahir, aku membawanya ke hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau memberi nama bayiku, Ibrahim dan men-tahnik dengan kurma lalu mendoakannya dengan keberkahan. Kemudian beliau kembalikan kepadaku. (HR. Bukhari 5467 dan Muslim 2145).

(*) Penulis Buku Gerakan Islam

0
0%
like
0
0%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here