Lafran
Foto: Referensi "Lafran Pane: Jejak Hayat dan Pemikirannya" karya Hariqo Wibawa Satria (2010). (Kiri) (dok. pribadi), Logo HUT HMI (kanan).

Oleh: Yusuf Maulana (*)


Dua abangnya, Armijn dan Sanusi, bertebaran dengan kata dan rasa di medan pujangga. Ia, memilih senyap membangun karsa anak muda. 5 Februari 1947, bersama 15 kawannya ia dirikan Himpunan Mahasiswa Islam. Pendirian HMI bermula dari prakarsanya.

Kesenyapan jua jalan yang ditempuhnya. Sekadar jadi pendidik di IKIP Yogyakarta cukup buatnya meski ada banyak tawaran mentereng. Sekali jadi anggota Dewan Pertimbangan Agung tapi memilih tak manfaatkan jabatan ataupun kedudukan.

Anaknya dilarang keras menerima beasiswa. Baik dari pemerintah maupun swasta. Bahkan ketika ada iparnya dari sebuah korporasi minyak Amerika hendak memberikan tawaran menggiurkan beasiswa buat seorang putra Lafran, juga ditepis.

Saban ada kolom gaji dan keterangan “tidak mampu”, Lafran ingin anaknya jujur menulis. Gaji ayahnya Rp 20.000, tak boleh dikurangi sepeser pun hanya agar ingin lolos sebagai penerima beasiswa.

“Aku masih sanggup membiayai kuliahmu!” Begitu selalu yang dikatakannya. Tak ayal anaknya tak pernah mendapatkan kendati beberapa kawannya yang berlatar keluarga jauh lebih mampu malah diterima.

Lafran Pane yang pendiam, dan bicara seperlunya, amat menjaga soal bantuan. Ia pantang meminta-minta. Memberikan bantuan atau hadiah padanya bukan perkara mudah. Anak didiknya di HMI coba berikan mobil hingga rumah. Patungan. Semuanya ditolak. Orang yang pernah dibantu hingga diterima di UGM, ditolak keras sekadar memberikan ucapan terima kasih.

“Cukup anak Anda kuliah yang rajin, itu sudah mantap, sekaligus menjaga integritas saya,” ujarnya.

Sampai wafatnya pada 25 Januari 1991, Lafran Pane tak memiliki rumah milik sendiri. Ini bukan soal buatnya. Yang penting pendidikan dan kesehatan keluarganya terjamin, begitu prinsipnya.

Dalam urusan kejujuran, Lafran setegas pada anak-anaknya agar menjaga shalat lima waktu. Tiga anaknya hafal betul bagaimana sang ayah bakal menghukum jika mereka tak (lekas) shalat.

Tak ada yang tahu bahwa kelahiran Lafran bukanlah seperti yang banyak ditulis disangka banyak orang. Sampai ketika ia wafat, barulah anak-anaknya membuka suara. Menyatakan bahwa sebenarnya titi mangsa ayah mereka bukan 23 April 1922, melainkan 5 Februari tahun yang sama. Persis waktu kelahiran HMI yang turut diandilinya.

Jujur; tegas memisahkan batas jabatan dan kepentingan keluarga; tidak memanfaatkan kedudukan; tidak ingin jadi pahlawan yang disebut di mana-mana; hidup bersahaja. Ada banyak pelajaran keteladanan darinya.
Maka, tak lagi penting berpuas ketika Lafran telah ditahbis sebagai pahlawan nasional pada 2017. Menilik jejaknya juga bukan buat dikagumi belaka. Ini oase tepat di zaman penuh sengkarut para pejabat. Amat sangat berbeda dengan cara berpikir seorang Lafran Pane.

“Lafran Pane dan generasinya,” ungkap Anies Baswedan, “mendirikan HMI untuk menjawab tantangan di zamannya dan merebut peran bagi generasi muda Muslim terdidik di masa selanjutnya. Saatnya menilai, apakah HMI masih bisa menyiapkan kader-kadernya berperan di masa depan, atau sekadar hidup dalam kenangan kebesaran dan tantangan masa lalu.”

Senyampang itu, rasanya amat tepat kalau bait sajak “Teratai” goresan sang kakak, Sanusi, mewakili perasaan dan kesan tentang Lafran. Betapapun sajak ini asalnya buat bacaan sastra anak sekolah dasar.

Biar sedikit penjaga taman
Biarpun engkau tidak dilihat
Biarpun engkau tidak diminat
Engkau turut menjaga Zaman

Alhasil, semoga kita, khususnya kalangan muda, masih mau mengenang dan meneladani legasi pergerakan Lafran Pane, bagaimanapun kondisi politik sekarang karut marut untuk dimasuki kaum muda.

#73TahunHMI


(*) Penulis Buku Gerakan Islam Asal Yogyakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here