Oleh: Yusuf Maulana (*)

“Tarbiyah kehilangan intelektual seperti antum dengan bergabungnya antum ke Garbi,” ujar seorang pemuda peneliti di lembaga think tank Ibu Kota begitu mendapati dan mengklarifikasi “hijrah” saya ke sebuah ormas baru.

“Sebenarnya biasa saja, saya juga tidak bakal menolak bila dimintai berbincang oleh para al-akh di jamaah,” jelas saya. “Dan tak benar bahwa di sana tiada orang pintar lagi alim. Masih banyak dan jauh di atas saya,” tambah saya lagi.

Lain waktu, seorang al-akh berujar, “Meski kami tahu antum kalangan eksternal (lama) di jamaah, tapi bergabung dengan Garbi membuat kami memandang antum berbahaya sebagai penarik para kader.”

Saat itu saya bertanya mengapa belakangan ada embargo hingga penolakan atas pelbagai forum yang menera nama saya sebagai pewicara.

Sangkaan yang mengatasi mulianya majelis diskusi pengetahuan tampaknya pekerjaan rumah yang hanya perlu diselesaikan dengan ketulusan hati dan bersihnya niat membagi ilmu, sesedikit apa pun itu. Ini momen bagi saya mengulang khazanah ataupun turots yang pernah dibaca. Tentang budaya ilmu berikut adab-adab yang menyertakan. Bagaimanapun juga ilmu mesti disampaikan atau ditimba dengan mengabaikan syak-syak personal.

Ketika ada anggapan majelis yang dihelat membidik kader satu jamaah, di lapangan yang berlaku malah yang hadir orang-orang luar. Bukan rekrutan mengambil satu komunitas dengan imingan tertentu. Yang kadang audiens wajah baru itu bikin tidak nyaman dengan semisal kepulan sigaret di jemarinya. Ada juga yang bertanya cadas dan mengaku desersi satu kelompok dakwah sejak lama.

Begitulah yang berlaku: kacang lama dihadang, bibit berlimpah datang menghampiri. Ini pelajaran penting, buat saya di antaranya jua.

Kekokohan menyikapi sangkaan berbeda saudara lama amatlah penting membentuk kadar kepintaran kita pada ilmu tersebut. Jiwa yang kokoh untuk bergeming dari tudingan “seram”, absurd, mengarah fitnah, menjadi penting sebagai bekal mengubah tradisi umat yang rentan goyah untuk konsisten dalam perbedaan yang terjadi.

Orang-orang yang dulu hangat menyapa, menimba wawasan, meminta bantuan, namun kini semua diam-diam pergi agar tak mau disebut bagian kelompok yang disimpulkan “berkhianat” sesungguhnya kawan juga, dan masih sahabat selamanya. Mereka hanya menjalankan pemahaman yang bijak dalam benak dan keyakinannya, kendati sayang luput merenungkan dengan pikiran dan hati jernih tiada kekaguman pada personal dan dogma.

(*) Penulis Buku Pergerakan Islam

0
0%
like
0
0%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here