Hasrat Setara
Yusuf Maulana, Penulis Buku Gerakan Islam. (Foto: kanalntb.com/dok.pribadi)

Oleh: Yusuf Maulana (*)

Di kota kami, setidaknya beberapa yang saya kenal, wirausahawan yang semula bisnisnya melaju normal bahkan melesat justru kini menurun. Gerai ditutup dengan pelbagai sebab. Ada yang tinggal sisakan satu. Mereka ini sejak lama penyokong sebuah fahaman imbal balik dari Allah atas sedekah kita. Soal ini izinkan saya takkan membahasnya di sini. Sudah ada beberapa ahli ilmu di kota kami yang menasihati dan mengingatkan kesilapan fahaman yang menyiratkan “ada pamrih di balik sedekah” lantaran menyakini pastinya balasan Allah dari sedekah yang diberikan.

Saya baru sadar, waktu yang sama dengan menurunnya usaha mereka, menurun pula kehadiran sang dai yang acap tabligh dengan fahaman di atas. Satu masjid yang banyak disumbang salah satu usahawan tadi seingat saya ada 6 bulan terakhir ini tak cantumkan nama sang dai. Jangan tanya kehadiran di tabligh akbar atas inisiatif elemen umat Islam, rasanya (mohon dikoreksi bila saya silap) lebih lama tak cantumkan nama beliau. Sampai dua tahun lalu, kalau tidak salah ingat, nama beliau sering hiasi publikasi di masjid-masjid.

Adakah kaitan soal menurunnya usaha jamaah sang dai dan tingkat kehadiran beliau di kota kami? Memang mesti perlu dihimpun lagi banyak informasi. Tapi yang jelas, kalau aktivitas safari politik usai beliau meneduhkan diri di kekuasaan, itu tak dihitung. Seperti publikasi berikut. Umat “telanjur” pintar, termasuk usahawan yang dulu lokal diminta bersedekah rutin ke lembaga umat yang dibentuk (?) beliau. Beberapa usahawan itu insyaallah masih setia menimba ilmu. Tapi urusan politik, itu lain. Tak sampai dilema kiranya, hanya saja sudah bikin mereka mawas dan jaga diri agar jajaring bisnisnya tidak dicap bagian afiliasi sang dai yang kadung dicaci.

Beliau memang bukan Imam Abu Hanifah; dai mumpuni dalam ilmu syar’i juga dalam urusan bisnis dan harta bagaimana hati meletakkan secara adil ihwal ambisi. Maka, keulamaan pengasas mazhab Hanafi ini lebih menjelang, namun tak banyak paham bahwa beliau pebisnis cekatan jua.

Tak sama dengan Imam Malik. Hanya ahli ilmu luar biasa. Itu kapasitas beliau. Toh beliau tak paksa diri agar jadi pengusaha agar dan atas nama dakwah. Malah beliau bisa dibilang miskin. Lain dengan lawan debatnya: Imam Laits. Ini imam kaya raya, baik urusan ilmu agama maupun ilmu niaga. Dalam seteru sengit di beberapa bahasan, Imam Malik biasa mengajukan kesulitan pada sang lawan di bab ekonomi. Dan Imam Laits penuhi itu tanpa membuat cibiran apalagi hinaan. Adab pada sesama ahli ilmu dijaga.

Nama para imam itu memang amat beda buat dibandingkan dengan mubaligh faedah sedekah tadi. Tapi ada pelajaran dasar soal tahu diri yang mestinya beliau jagai. Merapat kekuasaan sementara ada integritas usaha yang masih belum beres, ditambah ajakan sedekah ke lembaga tapi ada imbas yang kadang rentan hadirkan cerca pada agama ini, sedianya sang dai lebih introspeksi diri. Anasir umat yang memusuhi pilihan politiknya mungkin salah, namun jangan salahkan komponen umat kalau ada tanya soal kaitan mendamba balasan sedekah bukan semata-mata bab teologi keimanan kita di hadapan Allah. Selalu ada tendensi dalam sedekah begitu diingat umat, tapi sang dai tampak kurang hati-hati. Pandangan umat seolah tak dipeduli. Maka, refleks saja kalau ada anasir umat curiga: merapat kekuasaan juga pasti ada damba dan tendensi balasan belaka. Dan itu, ironisnya, ditarik ke soal kalkulasi materi; bukan maslahat bagi agenda keumatan. Sangkaan macam ini tentu terbuka dari kekeliruan tapi tak mustahil ada peluang terjadi demikian.

Kendati demikian, biarkan beliau temaram dalam putusan sadarnya. Dengan segala risiko yang kelak diterimanya. Di lain pihak, umat mestinya bisa bedakan mana ambisi pribadi dan kelembagaan yang sudah mapan di bawah beliau. Saya tahu banyak orang amanah dan profesional di lembaga dai tersebut. Mereka juga tak alami kondisi agar harus ikut gerbong politik sang dai. Ini yang mesti diselamatkan karena ada banyak kepercayaan dan titipan umat. Soal sang dai dan manuvernya, biarlah kita lokalkan sebagai kekeliruan dia. Tentu saja bila ada urusan hukum, supremasi keadilan tetap harus ditegakkan. Tak peduli siapa yang bersangkutan.

(*) Penulis Buku Gerakan Islam

0
0%
like
0
0%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here