Hatta, dan Jelita Anak Mantan
Foto: koleksi Deliar Noer

Oleh: Yusuf Maulana (*)

Anni Nurdin, perempuan anak seorang penerjemah di pemerintahan Aceh, mestinya masih ingat bagaimana orang-orang di sekitarnya pernah menjodohkan ia dengan Bung Hatta. Hasilnya: si lelaki menolak nikah. Ia terikat janji: takkan naik pelaminan sebelum negerinya merdeka! Janji yang diucapkan semasa ia di umur pertengahan 20-an tahun di Rotterdam.

Anni bukan terjebak pada sentimen pada penolakan Hatta ketika orang yang dekat dengan sang suaminya, Ir Soekarno, datang membujuk. Anak Anni, Rahmi Rachim hendak dijodohkan Soekarno buat kawan perjuangan setianya: Hatta. Sosok yang pernah menolaknya demi idealisme diri kini hendak dijodohkan dengan putrinya!

Terkejutkah Anni? Sudah tentu.

“Saya anggap perbedaan usia antara Yuke dan Bung Hatta terlalu jauh,” ujarnya.

Anni meminta waktu pada Soekarno agar ia diberi kesempatan berdiskusi dengan Yuke, sapaan Rahmi.

“Ia telah berumur 19 tahun dan cukup dewasa untuk memutuskan masa depannya sendiri,” jelasnya pada Soekarno.

Berbeda dengan sang bunda, adik Rahmi, Titi, tidak menyembunyikan perasaannya. “Jangan mau, Yu, ia terlalu tua!”

Bila Rahmi di usia ranum 19, Hatta tak ubah Oom atau bahkan sepantaran ayah mereka: 43 tahun.

“Hal yang penting ialah bahwa Hatta orang baik, ia seorang pemimpin yang baik dan ia teman baik saya sendiri,” papar Soekarno meyakinkan kecocokan kawannya andai jadi suami bagi putri Anni. “Kamu tidak akan kecewa. Hatta adalah seorang lelaki yang sempurna dengan prinsip yang paling tinggi,” imbuh Soekarno pada Rahmi.

Soekarno tidak salah. Dan Hatta bisa buktikan ucapan kawannya itu bukan mak comblang murahan. Titi mendapati kala calon iparnya itu mendaki gunung, Hatta tak kenal lelah. “Ia berjalan begitu cepat, seperti orang Barat,” kesaksiannya.

Hatta tentu masih ingat bagaimana jelita Anni. Tapi ia seperti sufi yang tak mudah ekspresikan isyarat cinta ataupun romansa perasaan lama. Ia hanya manut kala Soekarno meyakinkan sebegitu menggoda ihwal calon istrinya: “gadis yang paling cantik di Bandung”.

Mavis Rose (1991) dalam Indonesia Merdeka: Biografi Politik Mohammad Hatta, sumber kutipan kisah yang saya susun ulang ini, dengan nada sentimen mengulik rasa yang mungkin ada pada mereka. Ia menulis begini: “Hatta tidak menyinggung, apakah pada diri Rahmi Rachim ia melihat ada sifat-sifat yang sebelumnya ia kagumi pada diri ibunya.”

“Kenyataannya, dalam memoar Hatta, pernikahan itu hanya ditandai oleh sebuah foto pasangan pengantin tersebut,” ungkap Rose.

Ya, buat sosok besar macam Hatta, kenapa hanya sebuah foto mewakili rasa yang meruah hadir, meski entah apa dan bagaimana bentuknya. Dan 18 November 1945, pada gadis dari perempuan yang pernah dijoodhkan buatnya itu, Hatta berikan mahar: Alam Pikiran Yunani. Satu mahar yang sempat ditentang ibunda Hatta sendiri. Wajar saja, betapa “kebangetan” Bung satu ini yang kata Sjahrir, seorang kawannya, pernah berujar bahwa Hatta pantas disemat “lelaki kering lagi serius”.

Dus, selain itu, rasanya tidak perlu dibayangkan bagaimana adegan Hatta menyuai Anni, perempuan mantan calon yang diajukan buatnya yang berganti status selalu mertua. Hatta bisa secara dingin dan formal mengatasi semacam ini.

Rahmi sendiri paham, buku dan Hatta serupa keping koin. Dan itu diterimanya seperti buku-buku yang bakal jadi “madu” dirinya bagi lelaki yang di Jepang populer sebagai Gandhi dari Jawa. []

(*) Penulis Buku Pergerakan Islam

1
100%
like
0
0%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here