Hasrat Setara
Foto: ist

Oleh: Yusuf Maulana (*)

Kultus pengetahuan atas nama riset ilmiah itu bernama: Setara Institute. Entah mengapa, seolah temuan lembaga ini tak perlu dikritisi dan mesti sejalan dengan suasana kebangsaan yang dikehendaki para pendiri Republik ini. Padahal, kalau kita telaah dengan objektif dan kritis, lembaga ini mesti digeledah sebagai aktor pengetahuan yang juga hendak masuk di arena kontestasi dan konstruksi ideologi. Naif rasanya menempatkan Setara sebagai aktor steril dari hasrat menguasai medan pengetahuan. Pengetahuan yang sejalan dengan worldview para pengasas dan donatur tentunya.

Ihwal keberadaan kampus negeri yang terpapar paham transnasional dan intoleran, yang belakangan ini jadi komoditas di media massa, sebenarnya hanya memakai perspektif searah bagaimana konstruksi paradigma menurut Setara dalam menilai fenomena. Gejala langsung disimpulkan kondisi akut dan menular. Proses anomali disimpulkan fenomena masif. Belum soal yang sepele dan dinamika lokal kaum muda, secara gegabah diartikan subversi. Temuan yang ada, yang seakan meletakkan ancaman anak muda “korban” ideologi transnasional, malah sebenarnya menguji kewarasan kita: apakah benar pihak kampus sampai ormas Islam mapan begitu rentan dan mudah ditundukkan oleh militansi organ semisal HTI dan Tarbiyah?

Kekuasaan mendefinisikan, mengacak-acak, memilah, adalah bentuk praktik diskursif kekuasaan lain yang beroperasi secara berlawanan. Maka, dari “data” Setara kita bisa menjumpai hal-hal remeh semisal pemilihan ketua lembaga mahasiswa seakan sebuah pengangkangan mekanisme demokrasi yang berlangsung transparan. Setara lupa mengulik apakah demokrasi yang diterima gerakan transnasional itu lebih dijalankan dengan adil ataukah sebaliknya tatkala dikendalikan kelompok mahasiswa mantel ormas Islam mapan.

Itulah hasrat berkuasa dan prosedur melanggengkan kuasa yang kini momennya menguntungkan Setara. Hanya satu perlu pengilmiahan hasrat dangkal ingin merebut kekuasaan yang bila ditempuh dengan demokrasi mereka gagal total! Pun dalam kasus asistensi agama Islam sampai pemilihan rektor. Setara lupa bahwa di lapangan demokrasi malah dipelintir oleh pihak yang acap mendakwa Pancasila. Lihat saja temuan pemilihan pejabat kampus di UIN penting di Jawa. Malah jauh dari makna dewasa berdemokrasi. Mereka malah tidak jujur bagaimana membaca output dari kalangan yang dianggapnya berbahaya itu. Apakah analisis ancaman menurut model paradigma Setara itu aktual dengan kondisi riil dan objektif, ataukah hanya politik ketakutan atas nama data ilmiah meski wujud asalnya sebentuk menjaga eksistensi kelompok?

Akhirnya, lembaga seperti Setara yang kadung menjadi penggema kebencian pada kalangan transnasional, sejujurnya dokter yang keliru dalam mendiagnosis dan merawat demokrasi Pancasila di Indonesia. Ia hanya memakai asumsi sekularisme laisitisme yang dibungkus jargon sarat integrasi tapi sebenarnya ada ambisi mendisintegrasi anak bangsa. Mereka salah mengobati penyakit dengan tinggalkan penyakit yang lebih parah. Urusan kebangsaan dan persatuan tidak bisa diserahkan kepada kalangan demagog sekularisme yang hanya berpura-pura nasionalis dan penuh cinta tulus, namun sejatinya adalah aktor pemukul anak bangsa yang menyimpan dendam akibat kalah dalam kontestasi yang wajar dan fair dalam mengisi ruang publik.

(*) Penulis Buku Gerakan Islam

0
0%
like
0
0%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here