Giliran Massa Pro Ganti Nama BIL Datangi Kantor Bupati Loteng Minta Dukung Keputusan Pemerintah
Foto: Massa Pro Ganti Nama BIL Datangi Kantor Bupati Loteng.(KanalNTB.com)

Lombok Tengah, KanalNTB.com – Tanggapan terhadap aksi penolakan pergantian nama Bandara Internasional Lombok (BIL) Selasa (18/11) terus berlanjut. Tidak hanya dalam kata kata yang terlontar di media sosial tapi disambut
aksi demo di depan kantor Bupati Loteng, Kamis (21/11).  Kedatangan ribuan masyarakat yang tergabung dalam bela pahlawan ini menuntut Pemkab Loteng mendukung keputusan Pemerintah Pusat  mengganti nama BIL menjadi Bandara Internasional Zaenuddin Abdul Majid (ZAM) sesuai keputusan Menteri Perhubungan Republik Indonesia.

Massa yang lebih tinggi dari para santriwan dan santriwati tersebut, lebih dulu disetujui di lapangan Bundar Praya sebelum melakukan aksi. 

Setelah semua massa sepakat, mereka baru mulai bergerak menuju kantor Bupati membawa sepanduk bertuliskan dukungan penuh pada perubahan nama BIL.

Di depan kantor Bupati para orator aksi satu persatu mengundang aspirasinya mendukung pemerintah pusat mengeksekusi perubahan nama Bandara. Mereka menjelaskan tentang aksi mereka mengundang pahlawan untuk menyukai Maulansyaikh TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid, bukan karena tekanan dari pihak manapun.

“Kita di sini datang dengan ikhlas dan tergerak hati untuk memperjuangkan nama maulana syaikh, kami bukan ASN yang menggantikan kepala Dinas, kami bukan massa yang dibiayai APBD, tapi kami massa yang datang ikhlas dan seikhlas ikhlasnya,” kata orator gerakan, Ahmad Samsul Hadi atau dikenal dengan Memed.

Ia menayatakan, sudah dua kali Pemkab Loteng melakukan penolakan terhadap kebijakan pemerintah pusat untuk mengganti nama bandara ini. Sementara itu, keputusan pemerintah pusat ingin membicarakan semua masyarakat agar mendukung jasa pahlawan dan menyadarkan masyarakat tentang perjuangan para pahlawan kita.

“Kami datang untuk mengundang masyarakat untuk bersyukur. Perubahan nama ini tidak akan membuat kita miskin, tidak akan membuat kita sengsara. Mari hargai apa yang menjadi keputusan pemerintah pusat, ”ucapnya.

Ia menjelaskan, sebenarnya dia ingin agar kondiusifitas terus dipahami di Loteng ini. Lebih lanjut melihat pembangunan yang terus dilskukan. Jika ingin menolak, Bupati atau Wakil Bupati langsung mendatangi Gubernur NTB untuk membantah. Tapi jangan nemobilisasi atau menbeksploitasi ASN juga kepala desa yang memang tidak perlu. Saat ini masyarakat Loteng saat ini terprovokasi. “Kami datang dengan baik. Jika memang tidak menghadiri massa aksi hari ini. Tentu saja mereka tidak berani. Padahal yang datang adalah masyarakat dia sendiri, ”katanya.

Ia menyatakan, jika memang alasan Pemkab Loteng menolak karena perubahan nama bandara tidak sesuai. Sepatutnya yang dilakukan kepala daerah langsung dilakukan pada Gubernur. Tapi itu tidak dilakukan. Selian itu, keputusan pemerintah pusat untuk mengubah nama bandara sudah sesuai transisi. Karena tidak mungkin pemerintah pusat mengeluarkan keputusan tanpa prosedural juga. “Dia kan kepala daerah, harusnya tinggal langsung ke Provinsi NTB dong. Jangan malah melakukan eksploitasi yang malah akan bikin gaduh, ”tegasnya.

Sementara, orator aksi lainnya, Himni menyatakan, pihaknya mendukung penuh pada perubahan nama bandara. Karena memang hal itu untuk memenangkan jasa pahlawan. Pihaknya melakukan aksi dengan hati yang didukung oleh dinas terkait. Selain itu, pihaknya melakukan aksi tidak menggunakan dana APBD.

Jika Bupati atau Wakil Bupati tidak menghadiri aksi massa, tentu pihaknya salah memilih pemimpin dulu. Karena melakukan aksi adalah masyarakat Loteng juga. Pada intinya, masyarakat yang datang mendukung Pemerintah Pusat untuk meresmikan nama Bandar Udara Internasional “Zaenuddin Abdul Majid”.

“Kami ingin Bupati menghentikan eksploitasi Aparatur Sipin Negara, Guru, Pemerintah Desa untuk Kepentingan Politik. Hentikan penggunaan fasilitas Negara untuk melawan Negara. Pemkab harus menghormati keputusan pemerintah pusat, ”jelasnya.

Ia mengaku, ada lima menanggapi massa aksi ini, mendukung pemerintah pusat mengubah nama bandara menjadi Zainuddin Abdul Madjid Bandara Internasional, menghentikan semua bentuk menentang terhadap pemerintah pusat, menghentikan eksploitasi ASN untuk kepentingan politik dan pribadi. Hentikan menggunaakn fasilitas negara untuk melawan negara dalam negara dan hentikan memecah belah antar ormas di Loteng. “Kami juga akan mengawal keputusan ini sebagai bentuk Bela Negara. Alasan ini adalah Keputusan Pemerintah resmi dan Maulana Syaikh adalah Pahlawan Nasional, ”tandasnya.

Hanya saja, disela-sela aksi sempat terjadi keributan. Salah satu orator mengutip asal usulnya dari desa Ketare. Atas statemennya tersebut disetujui untuk disetujui keributan. Karena, mewakili warga Ketara yang hadir menyaksikan jalannya aksi, seperti Lalu Athar, Lalu Aksar Hadi dan kades Ketara, L Buntara menerima yang didukung. Pasalnya, tidak ada warga Ketara yang ikut demo. “Saya setuju. Tidak ada warga kami dari Ketara ikut demo. Begitu pula, jangan sebut-sebut nama desa, minta dikatakan miliknya dari Ketara, ”teriakan L Athar dan lainnya. Di satu sisi juga, L Athar menyatakan, tidak menyetujui nama bandara dirubah menjadi Bizam. “Saya tidak setuju nama bandara dirubah menjadi Bizam. Biarkan namanya BIL, karena itu yang cocok dan pas untuk kami, ”tungkasnya.

Baca Juga:

Atas pernyataan salah satu orator itu pula, L Athar dan lainnya berlarian mau menghampiri orator yang kompilasi itu berada di tengah-tengah masa aksi. Namun, tindakan L Athar dan lainnya berhasil dihalau pihak Kepolisian. Aksi didepan kantor Bupati Loteng ini tidak diundang dari Pemkab yang dibutuhkan massa untuk sampai pada pukul 12.00 Lebih.

(dik)

0
0%
like
0
0%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here