BERTANI dan BETERNAK DI MOTOGP :Kebangkitan Pariwisata juga Kebangkitan Pertanian (Seri 1)
Foto: Direktur Nusra Institut, Lalu Pahrurrozi. (dkk.pribadi)

oleh: Lalu Pahrurrozi (*)

Pasca Suhaili memimpin Lombok Tengah, apa yang mesti dilakukan? Jawabannya : Banyak….
Dan disini saya ingin urun rembug.

Suhaili dan pemimpin sebelumnya telah banyak bekerja. Banyak hasil yang kita nikmati. Utamanya dengan keberadaan BIL, KEK Mandalika, pembangunan infrastruktur jalan, poltekpar, pemindahan kantor, desa wisata dll. Tentu bagi sebagian orang, ada catatan kritis pada kepemimpinan Suhaili selama 2 periode. Dan mari kita melangkah ke depan.

KEK Mandalika dan MOTOGP yang direncanakan berjalan di 2021 bisa disebut momentum. Momentum untuk kebangkitan pariwisata; juga kebangkitan pertanian?

Bagaimana bisa?

Sebagai gambaran perbandingan, kita anggaplah kabupaten Badung, Bali sebagai model; dan Lombok Tengah khusus nya akan menjadi penopang utama “Bali kedua”. Per 2017, PDRB Badung mencapai 52,3 T (Loteng 15,9 T). Sektor akomodasi – pariwisata di Badung mencapai 15,112 T – setara dengan hasil tambang Newmont – AMMAN Mineral (Loteng masih 201,7 Milyar). PAD Badung 4,1 T (Loteng 293 M). Orang miskin di Badung 2,06% (Loteng 15,8%). Di badung, jumlah kamar hotel mencapai 24 ribuan; di Loteng belum seribu; dgn kata lain kita tertinggal 25 kali lipat.

Sekali lagi, MotoGP bisa menjadi peluang dan kesempatan. Seberapa banyak kita bisa mengejar ketertinggalan 25 kali lipat itu? Dengan rencana membangun 10 ribu kamar kita akan mengejar hampir setengah ketertinggalan itu. Estimasi PAD bisa menanjak menjadi 2T, gizi ekonomi pariwisata yang beredar bisa tembus 7,5 T hanya dari akomodasi dan penginapan.

Tapi saat kesempatan itu tiba, dimanakah warga? Dimanakah kita?

Kita (warga) mesti masuk dalam rantai pembangunan itu, hulu sampai ke hilir. Bukan hanya di rantai pariwisata dalam bentuk jasa kepariwisataan; tapi sebagai pembentuk market, pariwisata mesti menjadi “prime-over” bagi sektor perekonomian lainnya, khususnya pertanian-peternakan, yang menyerap 37% tenaga kerja, yang juga menjadi pusat kemiskinan.

Disanalah pentingnya integrasi. Integrasi pertanian-pariwisata sering diceritakan, tapi belum banyak dibuktikan. Itu yang mesti kita siapkan. Gagasan integrasi ini mesti “dipertentangkan”, “dikuliti”, “dikupas” hingga skala mikro, skala terkecilnya, agar pertentangan itu ditulis menjadi MONUMEN janji setiap kandidat. Dan MONUMEN itu tertuang dalam APBD Bayangan, atau minimal Rencana Pembangunan Bayangan. Jadi warga bisa bebas membaca pikiran kita, kemudian menilainya, dan mengambil kesimpulan.

Agar kita, memilih figur beserta hati dan fikirannya.

(*) Direktur Nusa Institut

0
0%
like
0
0%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here