BERSEDEKAH DENGAN DURI
Foto: dok

Oleh: TGH Khalilurrahman


Sesaat setelah mendengarkan ayat tentang sedekah dan keutamaannya, beberapa sahabat dari kalangan Muhajirin yang kebetulan kurang mampu secara harta, mengajukan judicial review kepada Rasulullah SAW. Mereka merasa iri dengan keadaan para sahabat yang berkecukupan, yang tentunya akan sangat mudah untuk berbuat kebaikan. Dalam urusan rajin dan giat ibadah, kaum miskin akan bisa menyamai kaum kaya, tapi dalam urusan sedekah, tentu mereka hanya bisa memberikan sedikit atau malah merekalah sebenarnya yang harus disantuni.

Mendapatkan pengaduan tersebut, Rasulullahpun bersabda, ”Bukankah Allah telah menjadikan tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir kalian sebagai sedekah? Begitupun dengan mengajak kepada yang makruf dan melarang perbuatan mungkar juga merupakan bagian dari sedekah.” (HR Muslim). Rasulullah pun juga menambahkan bahwa “Mendamaikan saudara yang bertengkar, menebar senyum ikhlas kepada orang lain, bertutur kata yang baik bahkan membuang duri dari jalan yang biasa dilewati banyak orang juga merupakan sedekah. (HR Bukhari)

Ada tiga hikmah besar yang bisa kita lihat dari protes para sahabat dan jawaban Rasulullah diatas. Yang pertama, para sahabat telah meletakkan rasa iri pada tempatnya. Bukan iri pada kenikmatan duniawi, tetapi iri dan merasa takut jika tidak bisa berlomba dalam meraih keridhaan dari Allah SWT. Yang kedua, jawaban Rasulullah menunjukkan bahwa Allah tidak akan memaksa hamba Nya diluar kemampuannya. Yang ketiga, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bersedekah, karena rupa dan bentuk sedekah tidaklah melulu harta. Pada konteks ini kita bisa melihat bahwa inti dari sedekah adalah ‘kerelaan’ kita memberikan sesuatu yang kita miliki kepada orang lain sesuai dengan kemampuan yang ada pada kita.

Walau demikian, Allah juga mengingatkan kita agar juga berhati-hati dalam bersedekah, jangan sampai sedekah yang kita sampaikan justru disertai dengan duri. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan pahala sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya atau menyakiti perasaan si penerima, terutama karena riya kepada manusia. Karena hal yang demikian ibarat batu licin yang di atas permukaannya ada tanah, kemudian datang hujan lebat yang menimpa batu itu, maka menjadi bersihlah batu tersebut tanpa ada tersisa sedikitpun bekas diatasnya. (QS. Al_Baqarah :264).

Dalam dunia medsos saat ini, kita tetap berhusnudzan kepada saudara-saudara kita yang (mungkin) memviralkan sedekahnya. Mereka sedang memotivasi dan menginspirasi kita. Mungkin pula sebagai pertanggungjawaban kepada orang orang yang menitipkan kebaikan melalui tangan mereka. Yang menyedihkan adalah adanya segelintir orang yang bersedekah dengan sesuatu yang tidak layak, sampah misalnya. Atau dengan sesuatu yang akhirnya menyakitkan penerima, nasi anjing misalnya. Atau mungkin ada yang bersedekah demi kepentingan rating, sensasi ataupun citra. Tidak perlu kita risau, kita pulangkan saja seluruhnya kepada Allah, kita hanya mampu menilai dari hal yang tampak saja.

Dari 39 ayat tentang sedekah, Allah memberikan suatu pujian yang luarbiasa kepada mereka yang bersedekah karena “lebih mementingkan orang lain padahal mereka sendiri sedang membutuhkan” (al_Hasyr : 9). Rasulullah pun memberikan sematan agung dengan ungkapan “Sedekah yang paling mulia adalah pemberian yang diberikan oleh orang yang sedang membutuhkan” (HR. Bukhari Muslim).

Mengaca kepada kondisi seperti sekarang ini kita perlu bertanya dan jujur kepada nurani kita : ”masihkan kita merasa tidak mampu untuk bersedekah…? ataukah seberapa layak kondisi kita sehingga kita ‘mengharuskan diri’ untuk menerima sedekah….?, ataukah jangan-jangan justru kita bangga menjadi bagian dari penerima sedekah…?

Wallahu a’lam bishshawwaab


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here