Belajar Logika
Belajar Logika

Oleh: Yusuf Maulana (*)

Selari publikasi sebuah partai Islam bakal menayangkan orasi politik seorang filosof populer, di linimasa saya hadir ulasan kritis para al-akh eks eksponen partai tersebut. Ada yang bernada mengingatkan kehati-hatian, ada yang mengaitkan dengan latar gagasan sang filosof pada masa lalu (catat: masa lalu), ada juga yang mencoba bersikap proporsional biasa saja.

Satu pihak ada sebagian al-akh terkesan mengagumi begitu saja pintalan kata-kata filosof populer di media, apa pun latar motivasinya terutama karena sebarisan dalam area politik. Di pihak lain, ada al-akh yang acap di komunitasnya teranggap dan ingin memilih sebagai barista kritis memilih mengajak melek saudaranya terhadap masa lalu figur yang sama. Alih-alih mengapresiasi, tukikan mengajak kemasalaluan jadi agenda pencerahan prioritas.

Di antara kekaguman yang berlekas dan kekritisan membangun tapi ada noktah sinis, akan lebih elok dan bijak bila fenomena yang ada diarahkan ke substansi yang produktif. Terutama dalam mengisi kelemahan umat yang mudah terpukau sekaligus terluka. Ya, agar para al-akh lebih mengagumi pada etos di balik sang figur “asing” ketimbang mengekor begitu saja tanpa ada peningkatan kapasitas diri.

Hemat saya begini. Jangankan mengajak terlibat intens pada ranah filosofis, mengenalkan konsistensi berlogika pada para al-akh bukan pekerjaan mudah. Berfilsafat dekat dengan kemahiran berlogika. Sebelum terbiasa memikirkan sesuatu secara filosofis, tradisi berpikir secara ilmiah dan dialektik masihlah asing, bahkan tabu, di banyak kasus kelompok epistemik dakwah; harakah Islam terutama.

Karena itulah, bilamana ada figur yang menjadi idola ihwal berlogika, saya pikir ini satu capaian yang mesti disambut baik. Mengapa tidak? Doakan saja kegandrungan yang dipicu terpaan tayangan ulang di media sosial ini bisa menjadi pintu masuk atau jembatan para aktivis Islam memperbaiki metode berpikirnya.

Khazanah mantiq perlu diajarkan dengan cara mudah dan populer ke depannya. Ini pekerjaan rumah di umat. Kita tak perlu gegabah bersikap. Jangankan seorang seperti Rocky Gerung, bila guru menimba logika sesosok lebih “parah” dari itu pernah ditempuh muslimin ketika berinteraksi dengan helenisme. Nah, yang diperlukan kini adalah mengajak belajar serius mengapa berlogika itu vital bagi dakwah.

Percayalah, sebagaimana para pendahulu kita pada abad 8-9 masih, akan ada mekanisme filter memilah sumber pembelajaran dari komunitas asing. Ini memerlukan kesungguhan dalam niat tentunya.

Di titik ini, saya sengaja menyitir tulisan Anis Matta tentang, dalam kalimat saya, tradisi eklektik dalam mencari ilmu dan hikmah. “Kemampuan memahami orang lain,” ungkap Anis Matta “dibangun dari kekayaan sumber informasi tentang orang lain, analisis yang komprehensif dan integral atas informasi-informasi itu, dan akhirnya penyikapan yang objektif terhadap mereka: tidak terlalu meremehkan dan tidak terlalu membesarkan mereka.”

Dengan demikian, niat kita bersikap dan kesungguhan mengilmu sesungguhnya berjalan simultan. Dan kebijakan merespons fenomena yang ada hanya satu cara bagaimana mendorong para al-akh menoleh pada fungsi dan peranan eksistensinya segala manusia yang punya tanggung jawab. Tradisi berpikir dan menalar perlu digalakkan. Dan andai ada momen yang bisa diisi untuk agenda tersebut, mengapa tidak untuk menyeriusinya sebagai agenda pengetahuan seperti masa yang ditempuh al-Kindi dan al-Farabi?

(*) Penulis Buku Pergerakan Islam

0
0%
like
0
0%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here