(Dari kanan) Paslon nomor 4 Ali-Sakti, Paslon nomor 3 Zul-Rohmi, Paslon nomor 2 Ahyar-Mori, Paslon nomor 1 Suhaili-Amin diatas arena debat pilgub NTB putaran pertama. (Foto: ist)

MATARAM, KANALNTB.COM – Selain soal perdebatan antara Suhaili–Amin dengan Ali Bin Dachlan dan TGH Lalu Gede Sakti, ada yang menarik disimak saat debat calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat yakni pasangan Ahyar–Mori yang mengkritisi kebijakan provinsi perihal Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Bahkan, hal ini berbanding terbalik dengan pasangan calon nomor 4.

Di mana, kala pasangan calon mendapat pertanyaan dari aspirasi publik yaitu berupa pertanyaan dari masyarakat. Di sini, pasangan Ahyar Abduh dengan Mori Hanafi diminta tanggapannya perihal pertanyaan masyarakat mengenai lapangan pekerjaan tidak sesuai dengan ijazah, strategi apa yang dilakukan dalam rangka peran pendidikan untuk mengatasi pengangguran. Dari pertanyaan tersebut, Mori Hanafi menjawab bukan hanya persoalan generasi muda yang lulus sekolah saja yang menganggur melainkan generasi muda yang lulus kuliah juga mengalami hal sama.

“Persoalan pengangguran bukan saja terjadi pada lulusan SMK saja melainkan banyak generasi muda lulus kuliah yang menganggur. Apalagi, di sini sangat terlihat ketidakberpihakan provinsi terhadap sekolah SMK. Di mana, sekolah SMK banyak dikurangi, oleh karenanya harus kita ubah,” ucapnya di Hotel Lombok Raya, Mataram, Nusa Tenggara Barat, baru-baru ini.

Menurutnya, apa yang dilakukan oleh pihak provinsi adalah langkah yang salah. Seharusnya, bukan dikurangi melainkan harus dilakukan pemetaan yang baik sehingga bisa dikelola dengan baik dan benar.

“Sekolah SMK itu adalah sekolah kejuruan, otomatis harus ditambah dan diperbanyak. Pasalnya, banyak jebolan SMK yang bisa diberdayagunakan untuk menjadi seorang tenaga ahli bukannya sekolah SMK dikurangi,” bebernya.

Sementara itu, apa yang diutarakan oleh pasangan nomor dua ini berbeda dengan pasangan calon nomor 4 yakni Ali Bin Dachlan dan TGH Lalu Gede Sakti yang lebih mengutamakan kepentingan masyarakat. Terlebih, pasangan ini juga ditanyakan oleh masyarakat dari segmen perihal aspirasi publik. Di sini, keduanya ditanyakan soal bagaimana menghindari persaingan usaha antara pasar modern dan pedagang kecil.

“Kita harus mengutamakan kepentingan masyarakat, di mana para pedagang kecil harus diberikan ruang maka cara ini sama saja dengan menghidupkan pedagang kecil. Perlindungan terhadap masyarakat kecil harus diutamakan,” kata Ali Bin Dachlan.

Tak itu saja, mengenai persoalan ijin maka Ali Bin Dachlan menuturkan tidak boleh semena-mena memberikan ijin, maka melalui hal tersebut membuat pemerintahan tidak boleh melupakan para pedagang kecil. Lalu, sang wakil TGH Lalu Gede Sakti juga ingin kehidupan pedagang kecil bisa bertumbuh lebih besar.

“Dengan maju bersama rakyat, maka itu sama saja membangun Nusa Tenggara Barat (NTB) yang beradab, berkarakter dan berbudaya guna menyongsong NTB penuh dengan nilai yang lebih dalam otomatis bisa melahirkan masyarakat yang selalu memikirkan etos kerja. Sehingga membawa dampak positif buat Nusa Tenggara Barat lebih makmur, kerja keras, hidup hemat. Oleh karenanya, banyak visi dan misi bisa dilakukan untuk kebutuhan tujuan bersama. Melalui rakyat lah kita membangun Nusa Tenggara Barat,” tegas Ali Bin Dachlan.

Bahkan, di sesi terakhir pun Ali Bin Dachlan bersama TGH Lalu Gede Sakti mengajak seluruh elemen masyarakat buat datang padanya dalam membangun Nusa Tenggara Baru secara kebersamaan.

“Rakyatku dari hulu utara ke selatan, rakyat ku yang ada di Nusa Tenggara Barat mulai dari kaum tertindas, kaum buruh, guru honorer, pedagang, petani, nelayan datanglah kepada saya. Saya Ali-Sakti nomor 4 siap membela kalian dan bersama Ali-Sakti siap bersikap tegas membasmi Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) karena kami adalah partai rakyat, maju dengan didukung oleh rakyat bukan maju bersama partai yang lain,” pungkasnya. (Tim)

1
100%
like
0
0%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here