LOMBOK UTARA, KANALNTB.COM – Pagi itu minggu (29/07), para pendaki yang bermalam di Danau Segara Anak Gunung Rinjani sedang asik melakukan aktifitas, ada yang masak, mancing dan menikmati indahnya pemandangan di Gunung tertinggi di Pulau Lombok Nusa Tenggara Barat itu.

Tiba – tiba sekitar pukul 06 : 45 wita suara gemuruh yang diiringi guncangan dahsyat (Gempa 6,4 SR) datang, tebing – tebing (gunung) di sekeliling Segare anak longsor, terjadi hujan batu yang jatuh ke arah danau dan seketika ratusan orang yang ada di sana berhamburan naik menyelamatkan diri.

“Semua orang panik saat itu, saya pasrah, hanya satu yang ada dalam pikiran saya bagaimana menyelamatkan tamu saya,” cerita Suhardi salah seorang porter asal Bayan Lombok Utara, Kepada Kanalntb.com, senin (30/07).

Dikatakannya, pada saat kejadian posisi dirinya berada di bawah batu ceper bersama empat orang tamu dari Thailand mau naik ke pelawangan Senaru, kala itu keadaan sangat mencekam reruntuhan batu dan debu terus berjatuhan ke arah danau, namun beruntung batu-batu itu tidak sampai ke arahnya karena masih terhalang oleh kayu dan batu di atasnya.

“Ngeri sekali, kami berlindung di bebatuan dan pohon cemara yang ada di sana untung saja batu-batu yang runtuh tidak sampai ke tempat kami karena terhalang pohon dan batu, namun debu semua masuk ke danau,”ujarnya.

“Air danau saat itu sempat surut sekitar 5 meter, lalu kembali naik hingga ke pos yang ada di danau dan setahu saya ada 1 korban yang meninggal tertimpa batu, dia orang maksar,” imbuhnya.

Suasana masih mencekam, dirinya bersama ratusan orang pendaki lain terjebak dan hanya bertahan hidup dengan sisa bekal seadanya.

“Saya di batu ceper itu sekitar 50 orang, kita bertahan hidup dengan sisa bekal yang ada, roti, air itu aja kita makan karena semua barang bawaan sudah kita tinggal,”katanya lirih.

Keesokan harinya, dirinya bersama porter lain dan tiga orang polhut yang saat itu piket berembuk untuk mengevakuasi para pendaki yang didominasi oleh pendaki dari luar negeri, jalur senaru tertutup reruntuhan sementara jalur torean ambalas sudah tidak bisa dilalui dan akhirnya mengambil jalur Sembalun.

“Longsor pagi itu masih terus terjadi, kita start dari atas sekitar jam 7 itu pun kita bagi tim 50 orang sekali jalan untuk menghindari longsoran dan alhamdulilah kita sampai di bawah sore, kita selamat,” tandasnya lega. (Eza)

0
0%
like
0
0%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
1
100%
sad
0
0%
angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here