LOMBOK TENGAH, KANALNTB.COM – Konsep pengembangan pariwisata dengan pendidikan belum sejalan. Disatu sisi, pariwisata dilakukan promo besar-besaran, tapi tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas pendidikan yang seharusnya menjadi rintisan mempersiapkan industri pariwisata lebih maju.

Potret suramnya pendidikan ini masih terjadi tepatnya SDN Torok Aik Belek, desa Motong Ajan, Praya Barat. Bahkan di tempat itu adalah lokasi destinasi wisata dengan pantai yang bagus.

“Bisa dilihat kondisi sekolah kami. Ada dua ruangan yang kondisi bangunannya mau hambruk,” ujar guru bidang study, Olahraga, Abdul Hamid sambil memperlihatkan ruangan kelas yang akan hambruk itu, Senin (7/4).

Sehingga, untuk kegiatan belajar mengajar siswa, pihaknya hanya menggunakan tiga ruangan kelas dari lima ruang kelas yang ada. Tapi, untuk mengatisipasi agar semua siswa bisa masuk pagi, sementara waktu pihaknya menggunakan ruangan SMPN 8 Praya Barat Satap Torok Aik Belek yang kini sudah tidak difungsikan.

“Tidak hanya kondisi bangunan saja yang memprihatinkan, kondisi moubelernya juga sudah tidak layak,” kata Abdul Hamid kelahiran Kemuru desa Pelambik tahun 1966.

Selain itu tutur Hamid, di sekolah ini hanya ada dua guru PNS-nya. Dirinya dengan kepala sekolah. Karena, guru PNS lainnya tidak ada yang betah, dengan alasan lokasinya terlalu jauh.

“Sementara ini kami hanya terbantukan guru honorer. Itu pun diambil dari warga setempat. Kini jumlah guru honorer sebanyak 8 orang,” terang Hamid yang berdomisili di Gerantung, Praya Tengah.

Ketika disinggung, alasannya bisa bertahan, ia katakan, pihaknya sudah terbiasa ditempatkan di sekolah di daerah terdepan, terpencil dan tertinggal (3T). Pasalnya, sebelum ditempatkan disekolah lain, pihaknya lebih awal dulu juga sudah mengajar di sekolah ini.

“Kalau saya sih sudah terbiasa,” ungkapnya.

Sementara, jumlah siswa di sekolah ini ucapnya sebanyak 100 siswa. Terdiri dari kelas I berjumlah 14 orang, kelas II sebanyak 13 orang, kelas III sebanyak 19 orang, kelas IV sebanyak 23 orang, kelas V sebanyak 27 orang dan kelas VI sebanyak 13 orang.

“Untuk kelas I dan VI, siswanya menggunakan ruangan SMPN Satap,” tandasnya.

Sedangkan, salah satu guru honorer, Ali Usman mengatakan, ia terpanggil untuk mengajar karena melihat anak-anak yang masih tulus untuk mau mengenyam pendidikan. Bahkan, selain di sekolah ia juga mengajar anak-anak ini di rumahnya, baik itu baca tulis dan mengaji.

“Walaupun saya tidak digaji, saya akan tetap memberikan pendidikan terhadap anak-anak ini. Karena ini sudah panggilan hati,” katanya.

Selain itu, Usman menceritakan kesannya selama mengajar, ia sangat bahagia dan terharu. Membuatnya terharu karena melihat kondisi ruangan sekolah yang memprihatinkan dan sudah tidak layak di gunakan untuk belajar lagi.

“Kami harapkan ada perhatian dari pemerintah. Paling tidak memberikan bantuan rehab,” tandas Ali. (Dik)

0
0%
like
0
0%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here