MATARAM, KANALNTB.COM – Direktur Utama PT Daerah Maju Bersaing Andi Hadianto, mengatakan PT Multicapital telah menyetorkan sebagian hutang dari hasil penjualan 6 % saham senilai Rp308 miliar dari total hutang yang belum dibayar sebesar Rp408 miliar lebih.

“Uang Rp308 miliar ini sudah masuk ke rekening PT Daerah Maju Bersaing (DMB). Sedangkan, sisanya sebesar Rp100 miliar dijanjikan dalam minggu-minggu ini sudah dibayar,” ungkap Andi Hadianto di Mataram, Senin (7/5).

Ia mengatakan, dengan masuknya dana Rp308 miliar itu, maka total jumlah uang yang sudah di setor PT Multicapital (Bakrie Group) dari hasil menjual saham sampai dengan saat ini mencapai Rp618 miliar. Jumlah ini merupakan total secara keseluruhan yang harus dibayar kepada kepada PT DMB, yakni Rp716 miliar.

“Dari jumlah itu, yang sudah disetor ke kas daerah mencapai Rp221 miliar,” terangnya.

Menurut Andi, uang tersebut disetorkan PT Multicapital pada 3 Mei 2018, setelah di transfer melalui Bank of Newyork.

“Karena mengingat proses administrasi yang cukup sulit, maka uang itu baru sekarang disetorkan kepada kami (PT DMB, red). Jadi pembayaran ini tidak ada kaitan soal pemerintah provinsi yang ingin menggunakan kejaksaan untuk menagih,” jelas Andi Hadianto.

Disinggung terkait penggunaan anggaran dari hasil penjualan 6 % saham tersebut, Andi menegaskan menyerahkan sepenuhnya kepada tiga pemerintah daerah selaku pemilik saham, yakni pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten Sumbawa Barat dan pemerintah kabupaten Sumbawa.

“Rencananya akhir Juni ini akan digelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) untuk membahas beberapa agenda-agenda pokok salah satunya adalah menyangkut aspek pemanfaatan penggunaan anggaran PT DMB. Mengenai semua keputusan menyangkut penggunaan dana ini tergantung pada RUPS, termasuk soal apakah PT DMB ini akan tetap dipertahankan keberadaannya ataukah akan dibubarkan,” ucapnya.

Andi mengugkapkan alasan utama sehinga pemilik saham harus melepas 6 % saham, yakni para pemilik saham telah melakukan pertimbangan yang matang terhadap penjualan saham tersebut. Bahkan menurutnya, pertimbangan penjualan saham itu juga telah mendapatkan persetujuan dari DPRD NTB.

“Jadi pertimbangan menjual saham antara lain kalau pemegang saham 6 %, kita tidak akan mendapatkan keuntungan yang signifikan. Disamping kita tidak bisa mengambil keputusan apapun karena kita bukan pemegang saham mayoritas,” paparnya.

“Bahkan memiliki saham 24 %, kita usulkan untuk pembagian deviden saja, usulan kita itu ditolak. Apalagi saham kita hanya 6 %. Belum lagi perusahan ini harus melakukan penambahan modal, lantas pertanyaannya darimana kita dapatkan uang sebagai dana penambahan modal?. Inilah alasan kenapa pada akhirnya diputuskan untuk menjual saja saham 6 % itu,” tambah Andi Hadianto.

Pertimbangan yang sama juga dilakukan ketika PT MDB menjual 24 % sahamnya. Pada saat dilakukan pembelian saham itu pun dibeli dengan harga Rp8,6 triliun dan dijual dengan harga Rp4 triliun saja.

“Saat itu, PT MDB mengalami kerugian Rp4 triliun akibat dari tingginya selisih antara pembelian dengan penjualan kembali. PT Newmont mengambil keputusan untuk menjual saham juga dilatarbelakangi oleh adanya kebijakan Pemerintah yang mewajibkan perusahaan membangun smelter. Ditambah lagi dengan pengenaan pajak yang begitu tinggi sehingga PT Newmont tidak mampu bertahan dengan tambang emas ini. Sehingga mereka pun akhirnya menjual sahamnya,” kata Andi Hadianto.

PT DMB merupakan perusahaan yang sahamnya dimiliki tiga daerah, yakni Pemprov NTB (40 persen), Pemkab Sumbawa (20 persen) dan Pemkab Sumbawa Barat (40 persen). Selanjutnya, PT DMB bersama PT Multicapital mengakuisisi 24 persen saham PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) melalui perusahaan konsorsium PT Maju Daerah Bersaing (PT MDB), yang terdiri dari 6 persen saham PT DMB dan 18 persen saham milik PT Multicapital. (Pur)

0
0%
like
0
0%
love
2
100%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here