MATARAM, KANALNTB.COM – Peraturan Menteri Kesehatan mengenai profesi tenaga kesehatan minimal lulusan D3 menjadikan sekolah-sekolah menengah kejuruan (SMK) harus memikirkan konsekuensi permenkes tersebut.

Baru-baru ini sudah ditetapkan bahwa SMKN 8 dan 9 Mataram akan ditutup dan  dan berubah menjadi SMAN 9 dan 10 Mataram yang akan dimulai dari pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun 2018 ini.

Perubahan status SMK menjadi SMA negeri tersebut pun berpengaruh pada tenaga pendidik. Terutama kepada guru swasa (Guru Tidak Tetap/GTT) tenaga kesehatan. Yakni sebanyak 8 guru swasta/GTT SMKN 8 Mataram terancam kehilangan pekerjaan sebagai tenaga pendidik bidang kesehatan karena pihak sekolah merubah program/jurusan seperti sekolah biasanya yakni IPA, IPS, dan Bahasa yang tidak membutuhkan tenaga produktif.

Kepala sekolah SMKN 8 Mataram, Rubiyanto M.Pd, turut prihatin memikirkan status ke-8 guru swasta tersebut. Menurutnya, pihak sekolah tidak bisa berbuat banyak selain menyerahkan kepada dinas ketenagakerjaan.

“Untuk guru swasta, ya ini saya rasa nggak enak, karena sudah lama mengabdi tapi begitu SMK 8 ditutup ya mereka harus mencari kegiatan lain. Guru swasta yang produktif ini kita kembalikan ke dinas karena tidak sesuai dengan bidang di SMA,” ungkapnya, Selasa (22/05)

Rubiyanto menambahkan, semenjak ada wacana bahwa SMKN 8 Mataram akan diubah menjadi SMA Negeri, guru-guru swasta tersebut sudah mengajukan resign. Namun karena tugas mereka belum selesai yakni harus bertanggung jawab atas 2 angkatan, maka guru GTT tersebut masih harus bekerja.

“Ya mereka mau lepas ajalah, tapi saya ingatkan masih ada dua periode yang menjadi tanggung jawab anda (Guru GTT).  Saya sih maunya mereka tetap bekerja di sini tapi gajinya darimana. Ya saya kurang tahu, dinas yang punya kebijakan mereka akan ditempatkan dimana,” tandasnya. (Dewi)

0
0%
like
0
0%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here