MATARAM, KANALNTB.COM – Kepala BNN Kota Mataram, Drs. Nur Rachmat, mengatakan tingkat prevalensi keterpaparan penyalahgunaan narkoba di NTB termasuk juga Kota Mataram, berdasarkan data BNN dan Universitas Indonesia dari jumlah penduduk yang rentan adalah sebesar 1,8 persen.

Demikian dikatakan Nur Rachmat saat mengisi kegiatan sosialisasi bahaya penyalahgunaan narkoba yang digelar Samalas Institute, Selasa (24/4) di aula PSSB MAN 2 Mataram. Kegiatan yang diikuti ratusan pelajar dan mahasiswa itu juga dirangkai dengan aksi pembagian stiker dan poster ke pengendara jalan.

Lebih jauh dikatakan Nur Rachmat bahwa total jumlah penduduk Kota Mataram sekitar 450 ribu jiwa. Sementara penduduk yang berada di usia rentan antara 10-59 tahun dengan jumlah 319 ribu jiwa. Artinya jumlah penduduk yang masuk prevalensi terpapar penyalahgunaan narkoba di Kota Mataram sebanyak 5.754 penyalahguna atau pecandu.

Sementara tingkat prevalensi di Kota Mataram sebanyak 56,5 persen dari jumlah yang terpapar narkoba itu adalah masuk dalam kategori coba pakai. Rata-rata usia muda antara 11-29 tahun. Oleh karena itu, salah satu upaya yang dilakukan untuk memberantas kasus penyalahgunaan narkoba yaitu mengurangi suplai dengan memotong jalur suplai barang haram tersebut.

Melihat data diatas, pihaknya merasa sedih lantaran banyak penyalahguna narkoba berasal dari pelajar dan mahasiswa. Hal itu berarti ancaman nyata bagi perkembangan bangsa di masa mendatang.

“Saya sangat konsern pada pelajar dan mahasiswa karena kalian adalah generasi penerus bangsa jangan sampai menyalahgunakan narkoba,” ungkapnya.

Kepala BNN Kota Mataram dan para pelajar berbagai sekolah dan perguruan tinggi di Kota Mataram membagikan stiker dan poster kepada pengendara jalan berisi penolakan terhadap bahaya penyalahgunaan narkoba. (Foto: ist)

Harusnya sebagai pelajar dan pemuda adalah sebagai tulang punggung bangsa. Karena itu, apapun bentuknya, apapun rayuannya narkoba harus ditolak dalam kehidupan para remaja dan pelajar.

“Jadilah pemuda tangguh dan bermental baja,” imbuhnya.

Sementara itu, Direktur Samalas Institute, Darsono Yusin Sali, menilai perlu ada upaya bersama semua pihak memberantas narkoba. Mengingat narkoba merupakan kejahatan luar biasa yang membutuhkan penanganan ekstra.

Terlebih kini narkoba sudah beredar hingga ke dusun-dusun. Tentu ini ancaman super serius bagi keberlangsungan generasi di masa depan.

“Apalagi bonus demografi dengan potensi kaum muda mencapai lebih dari 60 persen, harus dirawat agar jangan sampai terpapar narkoba,” harapnya. (Handi)

0
0%
like
0
0%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here