KSB, KANALNTB.COM – Kabupaten Sumbawa Barat adalah salah satu dari 10 kabupaten/kota di Provinsi Nusa Tenggara Barat(NTB). Dan KSB memiliki kekayaan sumber daya alam, seperti Tambang Tembaga dan Emas. Namun, masyarakat KSB belum semuanya bisa menikmati kekayaan alam itu, lantaran pemerintah daerah tidak memiliki kewenangan mengelolah tambang emas dan tembaga di PT AMNT.

Kekayaan yang dimiliki Kabupaten Sumbawa Barat tidak bisa dinikmati sebagian besar warganya. Sebagian besar masyarakat KSB masih tergolong hidup miskin.

Hingga saat Ini, masih ada kantong-kantong kemiskinan yang jarang tersentuh oleh program kesejahteraan rakyat. Kelurahan Telaga Bertong Kecamatan Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) menjadi wilayah termiskin di tahun 2017. Bahkan di lingkungan ini, tercatat sekitar 204 jiwa hasil verifikasi Basis Data Terpadu (BDT) Kementerian Sosial (Kemensos) dari jumlah sebelum di verifikasi 5. 759 jiwa. Angka ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan desa dan wilayah lain yang ada di KSB.

Salah satu Rumah tidak layak di Kelurahan Telaga Bertong Kecamatan Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). (Foto: kanaltb.com/dhev)

“Telaga Bertong salah satu kantong kemiskinan terbesar yang kita miliki saat ini. Data yang ada juga menunjukkan yang sama dan kita tidak bisa mengelak dari fakta tersebut. Jika dibandingkan dari semua wilayah, desa Poto Tano yang paling rendah tingkat kemiskinan sekitar 35-127 jiwa hasil BDT tahun 2017,” terang Kepala Dinas Sosial (Dinsos) dr. H. Syaifuddin, kepada wartawan, Senin (9/4).

Dikatakan dr. H. Syaifuddin, menyikapi masalah ini. Pihaknya bersama dengan DPMD akan segera membangun sinergi untuk bisa mengeluarkan Kelurahan Telaga Bertong dari status wilayah miskin di Kabupaten Sumbawa Barat.

Dua dinas memiliki peran masing-masing, khusus untuk DPMD, pendekatannya lebih kepada institusional. Baik dengan pengalokasian anggaran lebih untuk mengintervensi kemiskinan maupun kebijakan lainnya. Sementara Dinsos, akan lebih mengambil peran, terkait upaya pendapatan sebagai penerima program Pariri maupun Program Keluarga Harapan. Bahkan dalam upaya tersebut, akan lebih kepada pendekatan perorangan dan keluarga miskin. Hal ini juga akan dibarengi dengan porsi anggaran lebih kepada keluarga miskin yang berada di wilayah tersebut. “Kita akan lakukan kolaborasi dalam penanganan masalah kemiskinan yang ada di lokasi Tebet. Sehingga penanganan yang akan kita lakukan bisa maksimal,” ungkapnya.

Seraya menyebutkan, selain program khusus bagi penduduk miskin hasil BDT, di lokasi kantong kemiskinan juga akan diintervensi dengan program lain. Sehingga dengan pola keroyokan yang akan dilakukan tersebut, penanganan kemiskinan diharapkan akan jauh lebih maksimal. Tentu program penanganan kemiskinan juga akan melibatkan CSR perusahaan.
Hal ini dilakukan, karena jika hanya mengandalkan uang dari APBD saja, dianggap tidak akan bisa maksimal.

“Kita akan keroyok masalah masyarakat miskin dengan semua program, sehingga kedepannya angka penurunan kemiskinan di KSB akan lebih maksimal dan wilayah sebagai kantong kemiskinan juga semakin bisa ditekan,” tandasnya. (Dhev)

1
25%
like
1
25%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
2
50%
sad
0
0%
angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here