MATARAM, kanalntb.com – Dua puluh hektar tanaman cabai di wilayah Lombok Timur, gagal panen, akibat cuaca di Nusa Tenggara Barat, yang tidak menentu pada awal tahun ini dan menjadi pemicu melambungnya harga cabai di sejumlah pasar tradisional.

Mengingat cuaca tak menentu ini Kepala Dinas Perdagangan Provinsi Nusa Tenggara Barat, Hj. Putu Selly Andayani mengungkapkan perbandingan fluktuasi harga cabai di sejumlah pasar pasar tradisional.

“Harga cabai minggu lalu, sampai 100 ribu, tapi saat ini sudah mulai turun 70 smpai 80 ribu. Ini karena gagal panen, ada dua puluh hektar central cabai di LombokTimur rusak dan mati,” ungkapnya.

Menurutnya, kondisi gagal panen sudah terjadi sejak dua minggu terakhir yang menyebabkan harga cabai alami kenaikan bertahap, mulai dari 60 ribu, 80 ribu hingga 100 ribu perkilonya.

Selly menambahkan untuk menstabilkan harga, pihaknya telah mendatangkan cabai dari Lamongan Jawa Timur, untuk penambahan stok di Nusa Tenggara Barat yang mulai kosong.

“Sudah seminggu ini kita datangkan dari luar daerah, dari Lamongan, karena kita kehabisan stok, makanya harga mulai turun 75 sampai 80 ribu,” tambah Selly.

Pihaknya juga menambahkan, jika hanya mengandalkan stok lokal, harga cabai dapat mencapai 500 ribu.

Kenaikan kali ini dinilai berbeda kasus dengan tahun sebelumnya, jika tahun sebelumnya kenaikan dikarenakan NTB surplus cabai dan banyak dikirim ke luar daerah, kini NTB kekurangan cabai dan membutuhkan pemasukan dari luar sebagai bentuk stabilisasi harga.

“Beda dengan tahun sebelumnya, cabai naik karena petani mengirim keluar daerah. Kalau sekarang, cabai naik karena kita tidak punya stok, jadi perlu pemasukan dari luar,” tandasnya.

Pihaknya juga memperkirakan kondisi ini, akan bertahan hingga bulan Mei mendatang, hingga petani panen cabai kembali.

“Paling tidak sampai bulan Mei Petani panen cabai, baru harga dapat kembali normal”. (Handi)

0
0%
like
0
0%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here