MATARAM, kanalntb.com – Sejumlah pedagang beras di pasar tradisional di Mataram, setuju rencana pemerintah untuk mengimpor beras, pasalnya kondisi saat ini dinilai langka gabah dari kalangan petani, karena belum memasuki masa panen. Hal ini bertolak belakang dengan kebijakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Barat yang menolak impor beras.

“Saya setuju dan dukung rencana impor beras, karena saat ini gabah di petani kosong, jadi kalau impor dapat membantu ketersediaan beras, terlebih lagi harganya murah,” ungkap salah satu pedagang beras di Pasar Kebon Roek, Ampenan, Hj Sri ketika diatanya perihal impor beras, Rabu (17/1)

Menurut Sri, dibanding beras lokal, beras asal Vietnam kualitasnya lebih bagus, karena lebih terlihat putih, meskipun rasanya tidak seenak beras dari petani lokal.

“Kalau beras impor dari Vietnam, kualitasnya bagus, terlihat lebih putih, daripada beras pemerintah, hanya saja masih lebih enak beras petani lokal jika dimasak,” pungkasnya.

Pemprov NTB sendiri secara tegas menolak impor beras yang akan dilakukan pemerintah pusat. Pasalnya saat ini NTB dalam kondisi surplus beras.

“Petani jangan khawatir, sampai kapanpun NTB tidak akan menerima impor beras, karena saat ini kondisi kita masih surplus, terlebih lagi NTB termasuk ladang beras,” ujar Kepala Dinasnya Perdagangan NTB Hj Putu Selly Andayani.

Rencana pemerintah pusat akan melakukan impor beras sebanyak 500 ribu ton dari Vietnam dan Thailand dikarenakan kondisi beras yang dinilai mulai langka dan masih akan panen raya tiga minggu kedepan.

Menurut mantan Kepala Biro (Karo) Ekonomi Setda NTB ini, NTB masih dalam kondisi aman. Bahkan, kondisi ini telah dilaporkan kepada pusat bahwa NTB surplus beras.

“Justru NTB mengirim ke daerah lain, untuk bantuan stok beras, sehingga tidak akan mengimpor beras,” tegas Selly.

Ia menambahkan stok beras di Bulog masih aman. Bahkan, saat ini stok beras di Bulog dipastikan aman untuk 5 bulan kedepan.

Karenanya, jika pedagang kekurangan, maka pihaknya akan mendistribusikan kepada para pedagang. Apalagi, setiap bulannya Bulog menyiapkan 4.000 ton beras untuk di distribusikan kepada pedagang.

Sementara itu, berdasarkan pantauan harga beras di pasaran masih berkisar Rp8.100 untuk beras medium dari Bulog, dan Rp11.000 untuk beras premium.

“Masih dalam kondisi standar dan dibawah HET pemerintah,” tandasnya.

Selly mengimbau kepada pedagang untuk tidak latah, menaikan harga beras, karena kondisi di berbagai daerah saat ini yang mulai langka.

“Pedagang jangan latah, jangan ikut ikutan naikan harga, kita NTB surplus beras,” katanya. (k10)

0
0%
like
0
0%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here