Kanalntb.com – Jejah leger, itu kata yang layak disematkan pada masing-masing kandidat bakal calon Gubernur dan bakal calon Wakil Gubernur NTB. Terutama mereka yang hingga kini belum memperoleh pasangan alias masih menjomblo.

Kekhawatiran itu tidak saja lantaran belum punya pasangan, tapi justru mungkin lantaran belum laku.
Ya, tidak sedikit figur bakal calon kepala daerah yang dilirik partai politik. Kecuali mereka yang jauh hari memutuskan maju sebagai calon perseorangan. Sementara mereka yang mengharapkan kendaraan partai politik, setidaknya di penghujung 2017 sudah memenuhi syarat sebagai calon Gubernur dan Wakil Gubernur.

Sejumlah nama tokoh berseliweran akan bertarung di Pilgub NTB 2018. Deretan nama tokoh itu yakni TGH.Ahyar Abduh, H.Moh. Suhaili FT, H.M. Ali Bin Dachlan, Lalu Rudi Irham Srigede, KH. Zulkifli Muhadli, H. Zulkieflimansyah, H. Rusni, dan lainnya. Sementara di posisi bakal calon Wakil Gubernur pun banyak tokoh yang bermunculan.

Nama Wakil Ketua DPRD NTB Mori Hanafi disebut bakal mendampingi H. Ahyar Abduh. Selain dia, muncul juga nama Wakil Gubernur NTB H.Muh. Amin yang akan mendampingi H.Moh Suhaili FT. Nama lainnya seperti H. Subuhunnuri, Hj. Putu Selly Andayani, TGH. Lalu Gde Wirasakti Amir Murni, dan politisi Partai Demokrat NTB Hj. Sitti Rohmi Djalilah digadang sebagai bakal calon Wakil Gubernur NTB 2018.

Empat nama terakhir malah hingga kini belum jelas siapa pasangannya. Santer berembus berita mengenai TGH. Lalu Gde Wirasakti Amir Murni akan mendampingi Ali BD melalui calon perseorangan. Sedangkan Hj. Sitti Rohmi Djalilah justru disebut-sebut akan mendampingi H.Zulkieflimansyah.

Terkait dengan itu, pengamat politik Universitas Muhammadiyah Mataram H.Darmansyah menilai masing-masing kandidat harusnya sudah memetakan basis pendukungnya. Tidak lagi mengandalkan suara masa mengambang untuk memenangkan pertarungan pada Pilgub NTB 2018.

“Seyogyanya saat ini masing-masing kandidat tidak lagi dipusingkan dengan kendaraan politik apalagi pasangan calon. Mereka seharusnya sudah menyiapkan basis masa pemilih masing-masing,” ujar Darmansyah kepada kanalntb.com.

Dengan mengetahui basis pendukung masing-masing, setidaknya bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur NTB memperoleh referensi pasti. Salah satu contohnya pasangan Ahyar Abduh dan Mori Hanafi. Meski disebut membawa nama Bima, tapi sejauh ini Mori Hanafi harus mengukur kekuatannya.

Pilkada serentak 2015 menempatkan Hj. Indah Damayanti Putri sebagai Bupati Bima terpilih. Perolehan suaranya pun sangat fantastis yakni 105.506 suara atau 40,12 %. Kini, politisi perempuan yang akrab disapa Dae Dinda itu menjabat Ketua DPD II Partai Golkar Bima. Artinya, secara politis justru akan menguntungkan Suhaili yang diusung Partai Golkar.

Demikian halnya di Kota Bima yang juga akan menggelar Pilwakot pada 2018. Lagi-lagi politisi Partai Golkar H. Muhammad Luthfi akan diusung Partai Golkar sebagai bakal calon Wali kota Bima. Luthfi bukan figur baru di kancah perpolitikan. Dia merupakan politisi senayan yang sudah beberapa periode mewakili NTB dikancah perpolitikan nasional.

Pada pemilu legislatif 2014, Luthfi kembali lolos ke Senayan dengan mengantongi 59.074 suara. Dengan begitu, setidaknya untuk wilayah Bima lagi-lagi menguntungkan Suhaili. Lantas, bagaimana Mori Hanafi dapat mendongkrak suara untuk Ahyar Abduh pada Pilgub NTB 2018 mendatang. “Meski memang tidak semua masyarakat Bima merupakan kader Golkar dan belum tentu juga kader Golkar memilih Suhaili. Tapi setidaknya gambaran ini patut menjadi bahan masukan,” papar mantan Ketua KPUD NTB itu.

Begitu juga dengan Zulkieflimansyah yang disebut akan maju bersama Sitti Rohmi Djalilah. Politisi Senayan ini justru dinilai dapat memaksimalkan perolehan suaranya jika Sitti Rohmi bisa mendulang suara di Lombok Timur. Meski identik dengan calon dari Pulau Sumbawa, duet Zul-Rohmi setidaknya bisa menjadi pasangan yang patut diperhitungkan.

Lagipula, keberadaan TGB. H.M Zainul Majdi benar- benar berada di belakang pasangan Zul-Rohmi. Daya tawar TGB sejauh ini dinilai cukup kuat mengingat tokoh ini punya masa yang jelas. Terlebih, PKS juga dikenal memiliki kader yang militan sehingga pasangan ini punya peluang. “Saya kira persaingan akan semakin ketat jika masing-masing bakal calon punya peta basis masa masing-masing,” ungkapnya.

Bagaimana dengan H.Muh Amin yang kini menjabat Ketua DPW Nasdem NTB?. Posisinya sebagai petahan justru dinilai sangat strategis. Apalagi di akhir masa jabatannya Amin bisa berbuat maksimal dengan membangun opini positif di masyarakat.

Keuntungan ganda dinilai akan diperoleh pasangan Suhaili – Amin jika kepemimpinan TGB-Amin berhasil mendarat dengan mulus di akhir masa jabatannya. Opini positif itu, yang kata Darmansyah setidaknya berdampak positif.

Bupati Lombok Timur H.M Ali BD dinilai tidak kalah memegang peran penting di Pilgub NTB. Kandidat yang akan bertarung pada Pilgub NTB 2018 harus mengantisipasi gerakan Ali yang hingga kini konsisten menggunakan jalur independen. Posisi Ali saat ini berpotensi memecah suara di Lombok Timur.

Tidak heran jika Pilgub NTB 2018 dinilai cukup dinamis. Masing-masing kandidat punya peran penting sehingga tergantung strategi yang dimainkan. Apalagi jika nantinya Ali BD benar-benar mengambil Gde Sakti yang berpotensi memecah suara di Lombok Tengah.

Terpisah, bakal calon Wakil Gubernur NTB Mori Hanafi optimistis bisa mendulang suara. Baginya, masyarakat Bima punya karakter tersensendiri. Masyarakat Bima dinilai tidak melihat keberadaan partai politik pengusung, tapi lebih pada figur individu calon pemimpin. “Bima punya karekteristik sendiri, mereka cendurung tidak melihat keterwakilan partainya. Tapi lebih pada person to personnya, ” ujar politisi Partai Gerindra ini.

Itulah yang membuatnya percaya diri dan yakin suaranya tidak jeblok baik di Bima maupun Kota Bima. Di satu sisi, Mori justru memuji kepiawaian politik Indah Damayanti Putri meski penuh kontroversi. (tim).

0
0%
like
0
0%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here