MATARAM, kanalntb.com – Ide perubahan nama bandara LIA menjadi Bandara Internasional Tuan Guru Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dari berbagai kalangan mendapat tanggapan beragam.

Bagi sebagian kalangan pergantian nama LIA menjadi nama pendiri Ormas Islam terbesar di NTB tersebut suatu yang perlu dilakukan mengingat beliau seorang tokoh nasional yang layak dikedepankan sebagai penghargaan dari masyarakat NTB untuk mengenang jasa jasanya.

Namun bagi sebagian lainnya pergantian nama LIA tersebut dianggap kurang tepat dan tidak perlu terjadi. Hal itu hanya akan menimbulkan pandangan kontra produktif bagi nama besar Maulana Syeikh.

“Biarlah nama besar beliau menjadi milik ummat dan tidak perlu dimenumentalkan menjadi nama bandara atau gedung gedung,” ucap Hasan Masat dalam press releas yang diterima kanalntb.com Jumat (3/11).

Menurut Hasan Masat, masyarakat NTB juga perlu memikirkan perjuangan tokoh tokoh lain yang ada di Lombok atau NTB selain Maulana Syeikh.

Termasuk bagaimana dulu para petani terintimidasi, dibayar dengan tidak wajar. Namun karena sudah menjadi politicall will nya pemerintah, maka mereka harus ikhaskan. “Justru kami berharap kita tidak perlu berkutat pada persoalan nama, namun bagaimana agar warga kita tidak melulu menjadi cleaning service, menjadi penyakap pada tanah tanah kita sendiri,” tukasnya.

Tak dipungkiri memang di provinsi atau kabupaten lain nama tokoh tokoh pejuangnya menjadi nama universitas, bandara maupun pelabuhan. Tapi itu harus dibedakan dan tak perlu latah dengan apa yang mereka tentukan. “LIA kayaknya namanya bagus. Dengan tidak menjadi nama sebuah tempat atau bandara, nama beliau tetap memiliki tempat terhormat di hati warga Lombok, NTB bahkan nasional,” pungkas Direktur Lesa Demarkasi ini.(k5)

0
0%
like
0
0%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here