Oleh : H. Ahsanul Khalik (*)

Shalih ibn ‘Ali al-Hâmid dalam bukunya Rihlah “Jâwâ al-Jamîlah wa Qishshah Dukhûl al-Islâm ilâ Syarq Âsiyâ” (Perjalanan [ke] Nusantara yang Elok dan Cerita Masuknya Islam ke Timur Asia) yang ditulis pada tahun 1936 M, pelancong dari Yaman, sebagaimana yang dinukil oleh Ahmad Ginanjar Sya’ban meriwayatkan informasi yang kaya, penting, dan langka akan deskripsi Nusantara pada masa penjajahan Belanda ditinjau dari sudut pandang seorang pelancong asing.

Al-Hâmid berada di Nusantara selama kurang lebih setengah tahun, menjelajahi beberapa pulau (Jawa, Bali, dan Lombok) dan menghabiskan masa-masa yang sangat mengesankan. Al-Hâmid menuliskan gambaran Pulau Jawa, Bali, dan Lombok dengan sangat detail: topografi, penduduk, adat istiadat, struktur pemerintahan dan masyarakat (Belanda totok, indo-peranakan, pendatang Cina dan Arab, dan lain-lain), lembaga pendidikan, dan juga diaspora Arab-Yaman (al-Hadhârimah) serta kiprah mereka di Nusantara.
Lombok adalah salah satu daerah yang diziarahi oleh al-Hâmid dalam rihlahnya. Ia mewartakan Lombok pada tahun 1930-an dengan ungkapan, “Tempat ini adalah gambaran Firdaus yang diberikan Allah di atas muka bumi. Firdaus yang ‘tak ada mata pun dapat melihat, telinga dapat mendengar, dan bayang pikiran dapat melintas di hati manusia’. Allah memberikan karunia kepada para penduduk negeri ini dengan alam beserta pemadangan dan kesuburannya yang tiada tara”.

Dari serpihan taman firdaus inilah salah seorang putra terbaik negeri seribu masjid dilahirkan. Muhammad Syaggaf, demikian nama pemberian orang tuanya: TGH. Abdul Madjid dan Hj. Halimatussa’diyah, yang merupakan guru ngaji kampung saat itu, tokoh agama yang cukup terpandang di Bermi Pancor. Konon jelang kelahirannya, seorang alim dari Maghribi, Syaikh Ahmad Rifa’i, pernah membisiki Guru Mukminah, panggilan ta’dhim dari jama’ah untuk TGH. Abdul Madjid, bahwa anak yang akan lahir dari rahim isterinya akan menjadi ulama besar di masanya.
Doa dan pengharapan dari al-arif billah tersebut dimaknai Guru Mukminah dengan memberikan didikan yang layak bagi sang biji mata sekalipun tak mudah mendapatkan pendidikan pada masa itu di tengah himpitan kolonialisme Belanda yang pilih kasih dalam mewadahi keinginan pribumi untuk mendapatkan akses layanan pendidikan. Saggaf adalah segelintir pribumi Sasak yang mendapatkan hak istimewa tersebut. Tak hanya sekolah formal bentukan Belanda ia sasar, pun saban hari kyai-kyai kampung yang ahli agama ia datangi demi menggali dan menimba pengetahuan: fiqih, nahwu-syaraf, balaghah, dan sebagainya.
Dahaganya akan pengetahuan menemukan aliran yang tepat ketika tahun 1923 ditemani ibundanya tercinta dan beberapa keluarga besarnya merenda perjalanan menuju sumber utama cahaya pengetahuan: Mekah. Di negeri tempat berseminya Cahaya kenabian Sang Muhammad nafas intelektual Saggaf bermula. Lebih kurang 12 tahun lamanya Saggaf, yang kelak berganti nama menjadi Muhammad Zainuddin, menempa diri memupuk pemahaman agama. Pintu-pintu pemilik ilmu ia kunjungi demi memenuhi rongganya yang haus pengetahuan, namun pelataran Madrasah ash-Shaulatiyah yang didirikan oleh Syaikh Rahmatullah al-Masysyath, imigran eks pemberontak kolonialisme Inggris dari India, adalah ladang ilmu yang dirasanya dapat memenuhi pengharapannya akan ilmu-ilmu agama.

Prestasi akademiknya sangat membanggakan. Zainuddin selalu menjadi yang terbaik. Karena kecerdasan yang luar biasa, ia berhasil menyelesaikan masa belajarnya dalam kurun waktu 6 tahun dari waktu normal belajar 9 tahun. Dari kelas II, langsung ke IV. Tahun berikutnya ke kelas VI, dan kemudian pada tahun-tahun berikutnya secara berturut-turut naik kelas VII, VIII, dan IX. Studi di Madrasah ash-Shaulatiyah ia tunaikan pada tahun 1351 H/1933 M, dengan predikat istimewa (mumtaz). Ijazahnya ditulis tangan langsung oleh seorang ahli khath terkenal di Mekah saat itu, yaitu Syaikh Dawud ar-Rumani atas usul dari Mudir Madrasah ash-Shaulatiyah dan selanjutnya ijazah tersebut diserah terimakan pada tanggal 22 Dzulhijjah 1353 H.
Pemberian ijazah ini jelas tak lazim oleh karena biasanya ijazah ditulis, Si Fulan lulus dalam ujian dan menyelesaikan pelajarannya yang oleh karena itu diberikan ijazah Jayyid atau istimewa dan sebagainya. Namun, dalam ijazah Zainuddin tertulis, “Diberikan gelar yang melekat pada pemilik ijazah ini: “Al-Akh Al-Fadhil Al-Mahir Al-Kamil Al-Syaikh Muhammad Zainuddin Abdul Madjid al-Anfananiy” (Saudara yang mulia, sang genius sempurna, guru terhormat Zainuddin Abdul Madjid). Tak pelak, kejeniusan Zainuddin ini oleh para gurunya digelari dengan ‘Sibawaihi fi zamanihi’ (yang tak tertandingi). Nilai ijazahnya sempurna: 10 untuk semua mata pelajaran. Pun ijazahnya ditandatangani 8 guru besar pada Madrasah ash-Shaulatiyah bertanda tangan dalam ijazah, “Syahadah ma’a ad-darajah as-Syaraf al-ula” atau lebih tinggi dari predikat summa cumlaude.

Mudir ash-Shaulatiyah, Maulanas Syaikh Salim Rahmatullah dan Syaikh Muhammad Said, yang merupakan keponakan pendiri Madrasah ash-Shaulatiyah mengungkapkan kekagumannya: “Cukup satu saja murid Madrasah ash-Shaulatiyah asalkan seperti Zainuddin yang semua jawabannya menggunakan syair termasuk ilmu falak yang sulit sekalipun”. Sayyid Muhammad ‘Alawi ‘Abbas Al-Maliki Al-Makki, seorang ulama terkemuka kota suci Mekah pernah mengatakan bahwa tak ada seorang pun ahli ilmu di tanah suci Mekah, baik thullab maupun ulama, yang tidak mengenal kehebatan dan ketinggian ilmu Syaikh Zainuddin. Syaikh Zainuddin adalah ulama besar bukan hanya milik umat Islam Indonesia, tetapi juga milik umat Islam sedunia.
Selama di negeri sumur kearifan, Mekah, setidaknya Muhammad Zainuddin sempat belajar pada tiga orang guru asal Lombok dan 28 guru dari Arab dan Palembang. Dari guru-guru ini 11 orang di antaranya bermazhab Syafi’i, sedangkan 6 orang yang lain bermazhab Hanafi, dan 11 orang lagi bermazhab Maliki. Mereka kesemuanya adalah penganut faham Ahlusunnah wal Jama’ah.
Sebenarnya, Zainuddin masih berhasrat bercengkerama untuk menimba kearifan dari para masyayikh (para ulama) di Mekah, tapi panggilan untuk kembali ke negerinya: Indonesia, tak dapat ia tampik.

Terbayang di ingatannya belasan tahun lampau kala pertamakali meninggalkan kampung halamannya: Lombok, yang diliputi kabut gelap kejahilan karena ditimpa penjajahan Belanda. Tahun 1934 adalah tahun harus sejenak berpisah dengan para gurunya yang mulia di Tanah Haram Mekah: suatu keputusan yang tak mudah karena tak kurang dari 12 musim haji ia nyaris tak pernah jauh dari pusaran keberkahan itu. “Anakku… Pulanglah… Negerimu membutuhkanmu,” ujar Syaikh Hasan Muhammad al-Masysyath, Sang Guru yang amat ia kagumi, menjawab dilemmanya dan pikirannya yang galau. ‘Sabda’ yang tak bisa ia elakkan.
Sesampainya di kampung halamannya, Bermi Pancor Lombok Timur, ulama muda ini langsung saja dipercayai masyarakat sekampung untuk menjadi imam dan khatib—dua kedudukan terhormat dalam pandangan masyarakat kampungnya pada masa itu. Dalam waktu yang relatif singkat, ia pun telah pula dianggap sebagai seorang ulama muda. Ia pun segera pula dikenal dengan panggilan “Tuan Guru Bajang”, demikian masyarakat menyematkan tanda penghormatan atas kealiman ilmu agamanya. Maka begitulah, tidak lama kemudian ia pun telah bisa memberanikan diri untuk mendirikan Pesantren al-Mujahiddin—sekolah agama tradisional dengan memakai sistem halaqah—murid-murid tanpa kelas duduk mengelilingi sang guru.

Dari kawah candradimuka al-Mujahidin, jelajah dakwah sosial TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dimulai. Pilihan nama ‘al-Mujahidin’ jelas bukan sembarang pilih karena di dalamnya Maulanasyaikh, tanda kehormatan dari jama’ahnya, menitipkan semangat perjuangan-revolusi serta kesadaran untuk menyudahi praktik penjajahan Belanda. Saban hari, ia tak pernah lelah menyusuri kampung demi kampung untuk menyiramkan api perjuangan bagi anak negeri yang nyaris tenggelam dalam keputusasaan oleh karena begitu lamanya mereka berada dalam sekapan penjajahan.
Membangun kesadaran kultural yang demikian tidak muda dilakukan oleh Sang Guru Muda tersebut karena sempat tersiar desas-desus yang boleh jadi angin dan asapnya ditiup oleh kaki tangan Belanda untuk menggerogoti jalan perjuangan yang sedang ia retas. Sejenak ia dikucilkan oleh umatnya, tapi tak melangkah mundur jelas bukan pilihannya. Kecintaannya terhadap jama’ahnya yang sempat ‘tersesat’ dan Indonesia telah mengalahkan kekecewaan, bahkan kemarahannya.“Mendidik-mengarahkan umat adalah fardhu ‘ayn. Saya berdosa sekiranya meninggalkan tugas ini,” elaknya sewaktu diadili oleh pemuka masyarakat kala itu.

Badai pun berlalu. Desakan dari masyarakat untuk membangun lembaga pendidikan formal tak dapat iabendung. Tanggal 22 Agustus 1937 sejarah itu mulai menutur riwayat: Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) namanya. Tak berhenti sampai di situ, pada tanggal 21 April 1943, lembaga pendidikan khusus perempuan ia dirikan: Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah (NBDI). Pendirian lembaga pendidikan formal yang kala itu hanya dinikmati segelintir orang, jelas tindakan radikal bahkan kelewat berani, tapi bahwa membuka akses pendidikan bagi perempuan yang masih terkurung dalam kegelapan ilmu pengetahuan, jelas praktik yang sangat revolutif. Tapi Zainuddin tak punya pilihan selain melembagakan ijtihadnya demi melapangkan jalan transformasi kesadaran berbangsa serta alih nilai religiusitas-keberagamaan yang sekaligus menjadi ‘ruang inkubasi’ pengentalan cita rasa kebangsaan yang sewaktu-waktu akan diledakkan.
Waktu itupun tiba. Kabar bahwa Indonesia telah lahir sebagai negara merdeka tersyiar sampai ke telinga masyarakat Sasak dan NTB secara umum. Gegap-gempita masyarakat menyambut hari baru itu. Tapi ini tak lama karena napas kemerdekaan belum sempat ditarik sepenuhnya, tentara Belanda menginjakkan kaki untuk kesekian kalinya: menjajah dan mengoyak kemerdekaan. Kemarahan TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid tak lagi dapat dibendung. Napasnya menggelegar, jiwa raganya terpanggil untuk mengangkat senjata melawan kehadiran ‘baru’ Belanda.

Pesantren al-Mujahidin menjadi lokus utama perlawanan. Siasat dan strategi disusun. Skema pergerakan dibanguuun. Tuan Guru Zainuddin tampil memompa ruh perjuangan dengan dalil dan dalih agama. Gema takbir berkumandang di mana-mana. Bara perjuangan membakar jiwa raga manusia-manusia Sasak. Barisan perjuangan disusun. Persenjataan disiapkan. Doa-doa keselamatan dipanjatkan oleh Maulanasyaikh. TGH. Muhammad Faisal didaulat sebagai komandan pasukan yang dibantu oleh para tokoh masyarakat, tokoh agama, jama’ah, dan para santri Pesantren al-Mujahidin asuhan Sang Maulana, king makerdi balik layar, menggalang kekuatan massa dan spirit perjuangan. Tanggal 7 Juni 1946 pertempuran hebat terjadi, tapi logistik persenjataan yang tak seimbang, perlawanan ini berhasil dijinakkan oleh ‘Tuan Meneer’. Mayat para pejuang dan penduduk tak berdosa tergeletak.Tuan Guru Faisal, adik TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, adalah salah satu yang syahid di antara mereka.
Musim gugur menghampiri. Gerak langkah Tuan Guru Zainuddin dan Pesantren al-Mujahidin dipersulit. Ruang geraknya dipersempit. Telinga dan mata dipasang oleh Belanda untuk memantau sepak-terjangnya. Madrasah-Madrasah di bawah naungan Nahdlatul Wathan ditutup: hukuman atas keterlibatan mereka dalam ‘pemberontakan’ melawan Belanda. Tapi Maulanasyaikh melawan Belanda: mengingatkan mereka akan politik etik-balas budi yang dicetus oleh Ratu Wilhelmina, ratu Belanda. Madrasah-madrasah asuhan Tuan Guru Zainuddin bersemi kembali, bahkan semakin melebar keluar Pancor. Para abituren, sebutan untuk alumni madrasah Nahdlatul Wathan, memperluas kepakan sayap NW hatta nyaris tak ada sudut di Pulau Lombok yang nihil dari madrasah binaan Maulanasyaikh. Tanpanya,boleh jadi masyarakat Lombok akan menjadi buih dalamkebodohan dan akan tertidur lama dalam lorong sunyikejahilan pengetahuan, dan kebutaan terhadap agama.

Paska lepas sepenuhnya dari penjajahan, TGKH.Muhammad Zainuddin Abdul Madjid sempat singgah sebagai politisi, bahkan terpilih sebagai anggota Konstituante mewakili Masyumi. Pun sempat duduk sebagai anggota MPR Fraksi Utusan Daerah pada masa Orde Baru. Tapi ruang politik praktis dirasa bukan ‘rumah abadinya’ oleh karena tarikan untuk mengabdi serta melayani umat dalam ruang intimasi-audiensi bersama umat: jihad kultural dalam medan dakwah dan bilik kependidikan adalah panggilan jiwanya. Lembaga-lembaga pendidikan mulai dari dasar hingga universitas dibangun di sudut-sudut negeri Indonesia. Kini telah puluhan ribu alumni lahir dari didikan tangan dingin Maulanasyaikh.
Diberi gelar Abu al- Madaris wa al- Masajid, Tuan Guru Pancor, panggilan penuh ta’zim dari jama’ahnya, telah mewakafkan dirinya untuk umat. Melayani umat untuk menutupi dahaga spiritualitas mereka dengan menuangkan pemahaman dan laku sosial yang nyata. Kehadirannya tak ubahnya bagaikan bintang di tengah kesepian umat yang merindu akan ceguk kearifan. Mendatangi umat adalah kebahagiaannya tak ubahnya air mendatangi sumur dan membiarkan mereka menimba kearifan. Ia adalah sumber mata air kejernihan bagi masyarakat Lombok dalam bentangan usianya yang panjang. Tanpanya, boleh jadi Lombok tak akan dikenal sebagai “Pulau Seribu Masjid”, tak akan dipenuhi dengan menara-menara masjid. Dus, kontribusi TGKH.Muhammad Zainuddin Abdul Madjid terlalu jelas bagi bangsa ini. Jejak langkahnya adalah oase yang tak akan pernah kering dan akan terus tumbuh subur dirawat oleh anak-anak negeri: kita bangsa Indonesia yang teramat mencintai negeri ini. Wallahu’alam bishawab…

*Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah NTB
*Mahasiswa Program Doktor UIN Mataram

Opini ini adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian dari tanggung jawab redaksi kanalntb.com. Semua naskah yang diterima kanalntb.com merupakan hak kanal

0
0%
like
0
0%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here